Transformasi Politis Filmisasi Sastra Indonesia: Kajian Ekranisasi Cerpen Lintah dan Melukis Jendela ke dalam Film Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu dalam Perspektif Posmodernisme Hutcheon*)

Oleh: Suseno WS

Mereka Bilang, Saya Monyet! (selanjutnya disingkat MBSM) merupakan film yang diangkat dari dua cerpen, yaitu Lintah dan Melukis Jendela. Keunikan dalam transformasi tersebut adalah dua ke dalam satu, dua cerita ke dalam satu cerita. Hasilnya adalah sebuah film posmodern dan kaya akan perubahan signifikan. Penelitian berjudul “Transformasi Politis Filmisasi Sastra Indonesia: Kajian Ekranisasi Cerpen Lintah dan Melukis Jendela ke dalam Film Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu dalam Perspektif Posmodernisme Hutcheon” ini berusaha mendeskripsi perubahan-perubahan yang ada serta mengkaji aspek ideologis-politis dari perubahan yang tersebut. Teori ekranisasi yang diungkapkan Eneste (1991) menyebutkan bahwa dalam pelayarputihan akan selalu muncul perubahan-perubahan. Ekranisasi juga diartikan sebagai proses perubahan. Perubahan yang mungkin terjadi dalam ekranisasi adalah penciutan/pemotongan, penambahan, serta perubahan dengan variasi. Teori tersebut digunakan untuk menemukan perubahan-perubahan yang muncul dalam transformasi karya yang menjadi objek materi dalam penelitian ini. Selanjutnya dengan perspektif posmodernisme Hutcheon (1991), penelitian dilanjutkan untuk mengkaji aspek ideologis-politis dalam representasi yang ada. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, perubahan signifikan yang muncul dalam transformasi karya tersebut meliputi perubahan tokoh utama dari kecil menjadi besar, penciptaan tokoh-tokoh baru, perubahan karakter tokoh, perubahan latar cerita, serta perubahan alur cerita. Kedua, transformasi tersebut menghasilkan sebuah film posmodern. Posmodernitas film tersebut hadir dalam bentuk fragmentasi alur dan dualitas karakter tokoh utama. Ketiga, film MBSM, melalui representasi posmodernismenya, merupakan konter dominasi kekuasaan dari yang kuat terhadap yang lemah. Keempat, film MBSM menyerukan suara ideologi: penerobosan idealitas, penerobosan norma, serta pelarian dari beban masa lalu yang menghantui. Kelima, film MBSM merupakan respons terhadap wacana ‘sastra perkotaan’. MBSM, dengan representasinya, telah menyuarakan bahwa kenormalan atau idealitas merupakan produk kultural yang kerap digunakan sebagai pelabelan serta pelanggengan dominasi dan kekuasaan. Oleh karena itu, perlu ada penerimaan terhadap cara pandang yang berbeda sehingga tidak ada pengkutuban ideal-tidak ideal dan salah-benar.

Kata kunci: transformasi, ekranisasi, filmisasi, ideologi, dan politik posmodernisme, sastrawangi.

For abstract in English please click here

    *) Tulisan ini merupakan abstrak penelitian tesis S2 saya (Suseno) pada prodi Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2010.

Candi Kuno di UII Yogyakarta Peninggalan Abad IX

Bagus Kurniawan – detikNews

dok detikcom

Candi Kuno Ditemukan di UII Yogya
Yogyakarta – Candi kuno yang ditemukan di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta diduga peninggalan zaman kerajaan Mataram Hindu abad IX-X Masehi. Candi itu berkaitan erat dengan beberapa situs dan penemuan peninggalan purbakala zaman Hindu di daerah Sleman.

“Dari pengamatan kemarin, pada relief dam ornamen yang ada dibangunan candi yang ditemukan, dapat disimpulkan candi tersebut merupakan candi zaman Hindu-Budha zaman kerajaan Mataram kuno abad IX hingga X Masehi,” kata arkeolog B Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta, Sri Muryantini.

Menurut dia, candi ditemukan di kedalaman sekitar 2,5 meter. Bangunan candi tertimbun tanah dan pasir Gunung Merapi. Batu yang digunakan untuk bangunan candi juga tergolong batu andesit dengan kualitas bagus.

“Dengan demikian dapat disimpulkan itu bukan candi biasa. Namun kita belum bisa menyimpulkan fungsi candi tersebut. Perlu penelitian lanjutan dan dicocokkan dengan penemuan di sekitar lokasi,” katanya.

Sri mengatakan struktur bangunan candi yang ditemukan merupakan bagian pinggir dari permukaan candi. Untuk bisa mengetahui secara jelas dan utuh diperlukan penggalian atau ekskavasi.

“Kita perlu ekskavasi dan test tip untuk menentukan asal agama candi, apakah itu candi Hindu atau Budha serta dari masa raja siapa,” katanya.

Selanjutnya kata dia, dari hasil dari test tip, akan dicocokkan dengan dengan prasasti Mataram Kuno atau data-data pendukung lainnya, terutama penemuan di sekitar daerah tersebut. Test tip rencananya akan dilakukan dua minggu mendatang dengan memakan waktu 15-30 hari.

“Setelah itu kita baru bisa mengetahuinya secara utuh fungsi dan asal candi tersebut,” ungkapnya.

Dihubungi secara terpisah pakar Arkeologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), DS Nugrahani, menyatakan penemuan situs candi di kampus UII kemungkinan besar merupakan peninggalan Hindu-Budha abad IX-X masehi. Di kawasan lereng Gunung Merapi, terutama di Sleman-Magelang, merupakan kawasan perkembangan Hindu Budha pada masa lampau.

“Saya meyakini situs tersebut merupakan peninggalan zaman Hindu-Budha,” kata Nugrahani.

Menurut Nugrahani, di sekitar lokasi penemuan itu terutama di wilayah Kecamatan Ngemplak dan Ngaglik Sleman, sudah sering ditemukan situs purbakala. Penemuan di UII masuk wilayah Desa Umbulmartani Kecamatan Ngemplak. Di dekat lokasi juga terdapat kawasan peradaban Dusun Candi di Desa Sardonoharjo Ngaglik.

“Di sekitar tempat itu sudah sering ditemukan situs atau candi. Bahkan tak jauh dari lokasi penemuan sekarang belum lama ini juga ditemukan Prasasti Kembang Arum ataupun kawasan Candi,” ungkap staf pengajar jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya itu.

Nugrahani juga mengharapkan proyek pembangunan di lokasi itu dihentikan sementara. Hal ini untuk memberikan kesempatan BP3 DIY melakukan penelitian lebih jauh. “Situs semacam ini harus diselamatkan dan dilestarikan terlebih dahulu. Penemuan ini bisa menjadi laboratorium arkeologi alam,” pungkas dia.
(bgs/djo)

Ekranisasi dan Posisinya dalam Teori Sosial Lain

Oleh: Suseno WS

Istilah ‘Ekranisasi’ yang dikenalkan oleh Pamusuk Eneste (1991) dalam bukunya yang berjudul Novel dan Film meskipun tampak sangat dangkal isi dan jangkauan teorinya tetap memberikan satu khasanah baru dalam teori maupun kajian sastra ke film maupun adaptasi secara umum.

Patut diakui memang bahwa keberadaan teori ini masih belum mapan. Apalagi kalau kita benar-benar mempelajari isi teori tersebut. Akan tetapi, lahirnya istilah ‘ekranisasi’ tersebut, yang pada perkembangan berikutnya pada beberapa perguruan tinggi maupun pembahasan seputar adaptasi karya sastra ke film, merupakan satu bentuk respons yang sangat cerdas terhadap munculnya fenomena transformasi atau adaptasi karya sastra ke film yang pada perkembangan terakhir cukup menunjukkan perkembangannya. Tentu saja bukan hanya di negara barat, tetapi juga di Indonesia. Istilah ‘ekranisasi’ pun kemudian sering digunakan dan menjadi bahan rujukan pada beberapa kajian atau penelitian sastra.

Ekranisasi dikatakan sangat terbatas jangkauan dan pembahasannya karena hanya berbicara perubahan dalam bentuk penambahan, pengurangan/penciutan, dan perubahan dengan variasi. Itu pun masih ditambah lagi dengan penjelasan dan uraiannya yang tidak menunjukkan satu bentuk analisis yang mendalam. Oleh karena itu, untuk bisa mendapatkan kajian dan analisis yang lebih mendalam, pada praktik kerja penelitian ekranisasi dibutuhkan teori lain yang mendukung, sesuai dengan persoalan yang diangkat dalam penelitian tersebut.

Lalu bagaimana posisinya dengan teori lain?
Ada beberapa teori yang dapat dipetakan kekerabatannya dengan teori ekranisasi, yaitu Alih Wahana (Sapardi Djoko Damono, 2005) Adaptasi (Hutcheon, 2006), dan Resepsi (Iser, 1987). Kalau digambarkan dalam bentuk diagram adalah sebagai berikut.

Dari diagram tersebut, tampak bagaimana kekerabatan dan posisi teori ekranisasi di antara teori Alih Wahana ataupun Adaptasi dan Resepsi. Bisa dijelaskan secara sederhana di sini bahwa ekranisasi merupakan bagian dari adaptasi dan resepsi.
Lalu bedanya di mana? Ekranisasi memiliki batasan dan spesifikasi kajian yang lebih khusus, yaitu adaptasi karya sastra ke film. Batasan yang demikian tentu saja tidak dimiliki oleh teori lain, seperti alih wahana, adaptasi, dan resepsi, karena kesemuanya memiliki batasan dan jangkauan (genre) yang lebih luas. [SWS]

—————-
Sumber Rujukan

1. Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
2. Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah.
3. Hutcheon, Linda. 2006. Theory of Adaptation. New York: Routledge.
4. Iser, Woflgang.1978. The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. London: The Johns Hopkins University Press.

Filmisasi Karya Sastra Indonesia: Kajian Ekranisasi pada Cerpen dan Film “Tentang Dia” *)

Oleh: Suseno WS

  • Abstrak
    Tulisan ini berbicara mengenai transformasi cerpen Tentang Dia!!! karya Melly Goeslaw ke dalam film. Transformasi tersebut telah menghasilkan perubahan-perubahan dalam isi cerita. Munculnya tokoh Adi di dalam film akan menjadi sorotan dalam tulisan ini. Tokoh yang hanya ada di dalam cerita Tentang Dia!!! genre film ini ternyata memberikan peranan penting dalam terbangunnya cerita sebagaimana terlihat dalam relasinya dengan tokoh-tokoh utama.

    Kata kunci: ekranisasi, transformasi, film, dan filmisasi.

    Pengantar
    Fenomena transformasi karya sastra ke film ini telah terjadi sejak beberapa dekade. Sejumlah besar film yang sukses, khususnya dari segi jumlah penonton dan apresiasi masyarakat, merupakan film yang diangkat atau ditransformasi dari karya sastra—khususnya novel. Dalam sejarah perfilman dunia, sebut saja Hollywood misalnya, sembilanpuluh persen skenario film dan televisi berasal dari transformasi (Sumarno 1996 dalam Venayaksa 2006). Beberapa judul karya yang telah ditransformasi ke dalam bentuk film, antara lain: The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway, Dr. Zhivago karya Boris Pasternak, In The Name of the Rose karya Umberto Eco, The God Father I, II, III karya Mario Puzo, The Lord of the Rings karya Tolkien, dan Harry Potter karya JK Rowling.

    Sementara itu, transformasi karya sastra ke film di Indonesia telah dimulai sejak tahun 70-an. Sederet film maupun sinetron lain yang juga transformasi dari karya sastra (novel) antara lain Sengsara Membawa Nikmat, Roro Mendut, Atheis, Si Doel Anak Betawi, Darah dan Mahkota Ronggeng, Lupus, dan seterusnya hingga ke Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Selain diangkat dari novel, ada pula film yang diangkat dari cerita pendek. Cerpen Tentang Dia !!! (selanjutnya disingkat TD) karya Melly Goeslaw adalah salah satu cerpen yang telah di filmkan pada tahun 2005 oleh sutradara Rudi Soedjarwo.

    Filmisasi karya sastra hingga kini sering menyisakan persoalan, utamanya adalah persoalan originalitas. Banyak pihak yang menganggap inferior terhadap film hasil transformasi dari karya sastra. Bahkan sejumlah anggapan seperti cerita dalam film yang tidak sama atau melenceng dari karya sastra (novel)-nya, film tidak mampu menangkap inti cerita dari karya sastra sehingga ceritanya berbeda, sampai dengan anggapan bahwa film telah merusak citra cerita karya sastra, kerap muncul dalam pembicaraan pemfilman karya sastra. Bukan saja dari penonton, tetapi juga dari pengarang karya sastra. Pendapat-pendapat tersebut muncul sebagai ungkapan kekecewaan terhadap hasil transformasi tersebut. Dalam hal ini, kajian ekranisasi diharapkan mempu menjembatani perdebatan dan pertikaian anggapan serta justifikasi bahwa film telah merusak citra cerita karya sastra, di seputar persoalan transformasi karya sastra ke film.

    Hasil sebuah transformasi tentu saja tidak sama persis dengan sumber transformasinya. Persoalan ini terkait dengan kesetiaan atau ketaatan (fidelity) dalam mentransformasi sebuah karya menjadi karya yang lain. Seperti apa pula konsep kesetiaan yang dimaksud dan diharapkan, setidaknya sejak pertengahan abad 20 telah menjadi pembahasan yang serius, seperti telah dimulai oleh Bluestone yang telah banyak membahas persoalan transformasi karya sastra ke film, termasuk dalam diskusi comparative study. Kelaziman yang muncul dalam sebuah transformasi adalah adanya perubahan dan penyesuaian. Perubahan bentuk atau struktur dan penyesuaiannya dengan medium yang dipakai dalam transformasi tersebut.

    Tulisan ini akan membahas transformasi cerpen “Tentang Dia!!!” karya Melly Goeslaw menjadi film “Tentang Dia” oleh sutradara Rudi Soedjarwo. Akan tetapi, tidak akan membahas keseluruhan bentuk/perbedaan hasil transformasi tersebut. Hal ini mengingat luasnya materi baik cerpen sebagai sistem sastra maupun film sebagai sistem film yang meliputi cerita, alur, tokoh, penokohan, dan setting. Oleh karena itu, dari objek materi tersebut penulis hanya akan membahas persoalan hadirnya tokoh sampingan dalam film—sebagai salah satu bentuk perubahan signifikan yang muncul, kaitannya dengan relasi dan fungsi tokoh sampingan tersebut dengan tokoh utama dalam membangun cerita. Pembahasan diawali dari film, baru kemudian akan dibandingkan dengan cerpen sebagai sumber transformasinya.


    Ekaranisasi

    Transformasi dari karya sastra ke bentuk film dikenal dengan istilah ekranisasi. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis, écran yang berarti ‘layar’. Selain ekranisasi—yang menyatakan proses transformasi dari karya sastra ke film—ada pula istilah lain, yaitu filmisasi.

    Ekranisasi adalah pelayarputihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film . Eneste menyebutkan bahwa ekranisasi adalah suatu proses pelayar-putihan atau pemindahan/pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Eneste juga menyebutkan bahwa pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan—bisa mengalami penciutan, penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.

    Damono memiliki istilah alih wahana untuk membicaraan transformasi dari satu ke lain. Istilah ini hakikatnya memiliki cakupan yang lebih luas dari ekranisasi. Ekranisasi merupakan perubahan ke-/menuju layar putih, sedangkan alih wahana seperti yang dijelaskan Damono bisa dari berbagai jenis karya seni ke jenis karya seni lain. Akan tetapi, istilah ini tidak bertentangan dengan makna dan konsep dasar yang dimiliki oleh ekranisasi sebagai proses pengubahan dari satu wahana ke wahana lain.

    Damono menjelaskan bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain. Alih wahana yang di maksudkan di sini tentu saja berbeda dengan terjemahan. Terjemahan atau penerjemahan adalah pengalihan karya sastra dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sedangkan alih wahana adalah pengubahan karya sastra atau kesenian menjadi jenis kesenian lain. Damono mencontohkan cerita rekaan diubah menjadi tari, drama, atau film. Bukan hanya itu, alih wahana juga bisa terjadi dari film menjadi novel, atau bahkan puisi yang lahir dari lukisan atau lagu dan sebaliknya. Lebih lanjut disebutkan bahwa di dalam alih wahana akan terjadi perubahan. Dengan kata lain, akan tampak perbedaan antara karya yang satu dan karya hasil alih wahana tersebut. Alih wahana novel ke film misalnya, tokoh, latar, alur, dialog, dan lain-lain harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan jenis kesenian lain .

    Di dalam ekranisasi, pengubahan wahana dari karya sastra ke wahana film, berpengaruh pula pada berubahnya hasil yang bermediumkan bahasa atau kata-kata, ke dalam film yang bermediumkan gambar audio-visual. Jika di dalam novel ilustrasi dan penggambaran atau pelukisan dilakukan dengan menggunakan media bahasa atau kata-kata, dalam film semua itu diwujudkan melalui gambar-gambar bergerak atau audio-visual yang menghadirkan suatu rangkaian peristiwa.

    Perbedaan media dua genre karya seni, ini memiliki karakteristik yang berbeda pula. Bahasa sebagai medium karya sastra memiliki sifat keterbukaan pada imajinasi pengarang. Proses mental lebih banyak terjadi dalam hal ini. Bahasa yang digunakan memungkinan memberi ruang yang luas bagi pembaca untuk menafsir dan mengimajinasi segala sesuatu yang diungkapkan oleh teks sastra tersebut. Sedangkan media gambar (audio-visual) memiliki keterbatasan untuk semua itu. Gambar yang disajikan menjadi satu bentuk absolut yang bersifat paket. Penonton menerima gambar tersebut dan hampir tidak tersedia ruang baginya untuk mengimajinasi tiap-tiap yang ditontonnya. Faktor lain yang berpengaruh adalah durasi waktu dalam penikmatan film. Terbatasnya waktu memberikan pengaruh tersendiri dalam proses penerimaan dan pembayangan.

    Selain transformasi bentuk, ekranisasi juga merupakan transformasi hasil kerja. Dalam proses penciptaan, novel merupakan kerja atau kreasi individu , sedangkan film merupakan kerja tim atau kelompok. Novel merupakan hasil kerja perseorangan yang melibatkan pengalaman, pemikiran, ide, dll, sedangkan film merupakan hasil kerja bersama yang meliputi penulis skenario, sutradara, aktor, juru kamera, penata artistik, dll. Maka dengan demikian, ekranisasi juga dapat dikatakan sebagai proses perubahan dari sesuatu yang dihasilkan secara individual menjadi sesuatu yang dihasilkan secara bersama-sama atau gotong-royong .

    Perbedaan wahana atau media dari dua genre karya tersebut tentu saja berpengaruh pada bentuk sajiannya. Dengan kata lain, perbedaan media memengaruhi cara penyajian cerita, bentuk penyajian cerita. Selain dipengaruhi oleh keterbatasan (limit) yang dimiliki oleh masing-masing media tersebut—novel dan film juga dipengaruhi oleh adanya proses resepsi, pembacaan, sutradara atau penulis skenario terhadap cerpen tersebut. Lebih dari itu, resepsi tidak dapat lepas dari interpretasi, dan pada itu juga akan dimasukkan juga ideologi dan tujuan-tujuan, intensi, pesan, misi, dan keinginan sutradara ataupun penulis skenario. Kompleksitas ini tentu saja akan sangat dipengaruhi oleh jiwa zaman, fenomena sosial yang berkembang, kultural, dan sosial masyarakatnya.

    Penciutan, Penambahan (Perluasan), dan Variasi Transformasi
    Ada beberapa aspek yang dipertimbangkan di dalam transformasi karya sastra ke dalam bentuk film. Salah satunya adalah aspek durasi waktu penikmatan atau pembacaan.

    Waktu yang dibutuhkan untuk menikmati atau membaca karya sastra tentu saja berbeda dengan waktu yang dibutuhkan untuk menikmati atau menonton film. Waktu untuk membaca karya sastra lebih longgar, lebih luas. Sedangkan film, waktu penikmatannya cenderung lebih terbatas. Keadaan tersebut tentu menjadi faktor yang penting untuk dipertimbangkan dalam transformasi karya sastra menjadi film. Hal itu pulalah yang kemudian menuntut para sineas melakukan kreasi-kreasi dalam proses transformasi.

    Faktor yang lain adalah tujuan. Para sineas dalam memfilmkan karya sastra tentu saja tidak lepas dari tujuan. Dengan kata lain, transformasi dari satu genre dan medium ke genre dan medium yang berbeda tentu saja memiliki tujuan yang dibawa masing-masing.

    Salah satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi sastra ke film adalah penciutan. Penciutan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita dalam sastra dalam proses transformasi. Penciutan dapat dilakukan terhadap unsur sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adanya proses penciutan atau pemotongan maka tidak semua hal yang diungkapkan dalam novel akan dijumpai pula dalam film . Dengan demikian berarti akan terjadi pemotongan-pemotongan atau penghilangan bagian di dalam karya sastra dalam proses transformasi ke film.

    Melakukan penciutan atau pemotongan pada unsur cerita sastra tentu tidak tanpa alasan. Ada beberapa alasan dalam tindakan tersebut. Pertama, anggapan bahwa adegan maupun tokoh tertentu dalam karya sastra tersebut tidak diperlukan atau tidak penting ditampilkan dalam film. Melihat faktor ini, maka sineas akan melakukan pemotongan atau pengurangan pada bagian yang dianggap tidak perlu dihadirkan di dalam film—sebagai transformasinya. Hal ini tentu saja tidak lepas dari pertimbangan tujuan, dan durasi waktu penayangan. Kedua, alasan mengganggu, yaitu adanya anggapan atau alasan sineas bahwa menghadirkan unsur-unsur tersebut justru dapat mengganggu cerita di dalam film. Ketiga, adanya keterbatasan teknis film atau medium film, bahwa tidak semua bagian adegan atau cerita dalam karya sastra dapat dihadirkan di dalam film. Hal ini terkait dengan sifat yang dimiliki oleh kedua medium atau genre tersebut, bahasa dan gambar (audio-visual). Keempat, adalah alasan penonton atau audiens, hal ini juga berkaitan dengan persoalan durasi waktu .

    Kemungkinan lain yang dapat terjadi dalam proses transformasi sastra ke bentuk film adalah penambahan (perluasan). Seperti halnya dalam kreasi penciutan, dalam proses ini juga bisa terjadi pada ranah cerita, alur, penokohan, latar, maupun suasana . Penambahan yang dilakukan dalam proses ekranisasi ini sudah barang tentu memiliki alasan, baik alasan pentingnya penambahan, alasan relevansinya dengan cerita secara keseluruhan, ataupun karena alasan lain.

    Variasi-variasi adalah hal ketiga yang memungkinkan terjadi dalam proses transformasi dari sastra ke film. Variasi di sini bisa terjadi dalam ranah ide cerita, gaya penceritaan, kernel-satelit, dsb. Terjadinya variasi dalam transformasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain media yang digunakan, persoalan penonton, durasi waktu pemutaran. Transformasi atau pemindahan karya sastra ke film memungkinkan terjadi variasi-variasi di sana-sini.

    Kutub Transformasi dalam TD, Perbandingan antara Cerpen dan Film
    Berikut ini diuraikan perubahan yang terjadi dalam ekranisasi cerpen TD ke film TD. Seperti disebutkan di awal, pembahasan akan dikhususkan untuk melihat perubahan signifikan seputar munculnya tokoh Adi di dalam film.

    Variasi dan Penambahan (Perluasan) serta Perannya dalam Membangun Cerita
    Merujuk pada konsep ekranisasi sebagaimana diungkapkan oleh Eneste bahwa di dalam transformasi karya sastra ke film bakal terjadi berbagai perubahan (transformasi). Salah satu perubahan yang mungkin terjadi adalah penambahan atau perluasan.

    Transformasi cerpen TD ke film TD telah menunjukkan adanya perubahan tersebut. Di dalam film, muncul satu tokoh yang tidak terdapat di dalam cerpen: tokoh sampingan, yaitu Adi, adik Gadis (tokoh utama dalam cerpen maupun film tersebut).

    Hadirnya tokoh Adi dalam film TD telah menunjukkan adanya penambahan atau perluasan dalam transformasi karya tersebut. Penciptaan tokoh sampingan ini tentu saja dikarenakan keberadaan dan fungsinya yang penting dan signifikan dalam turut membangun cerita. Dalam hal ini tokoh Adi berperan sebagai pintu masuk seputar peristiwa-peristiwa tokoh utama. Melalui wadah tokoh Adi ini, pertemuan Gadis dengan Rudi dapat berlanjut ke ranah pertemuan dan pertemanan yang lebih dalam. Dengan demikian, cerita dapat terbangun dan berjalan kembali.

    Jika dilihat dalam sekuen cerita film TD, pertemuan antara tokoh Gadis dengan Rudi telah diawali dalam adegan di sebuah jalan raya ketika mobil Gadis menabrak seorang perempuan, yang kemudian diketahui bernama Rudi. Akan tetapi, pertemuan ini berhenti. Tidak lagi ada kontak atau hubungan lebih lanjut antara keduanya. Melalui sarana tokoh Adilah pertemuan keduanya berlanjut. Di sinilah peran yang begitu penting di capai dengan menghadirkan satu tokoh sampingan, Andi. Meskipun seolah-olah hanya sebagai pintu masuk kedua, tetapi peran ini cukup signifikan. Dengan demikian sekuen cerita yang terjadi dalam bagian tersebut merupakan peristiwa yang penting, merupakan kernel sebuh cerita.

    Selain jalan masuk kedua hubungan atau pertemuan sampai ke ranah pertemanan antara tokoh Gadis dan Rudi, munculnya tokoh Adi dalam film juga berfungsi sebagai pintu masuk terjawabnya pertanyaan, kegelisahan, dan pencarian Randu terhadap Gadis.

    Selain hadirnya tokoh Adi yang memiliki peran signifikan dalam membangun cerita, ada pula tokoh figuran yang dihadirkan di dalam film, antara lain: 1) Surti (pembantu di rumah Gadis). Peran atau fungsi dihadirkannya tokoh ini banyak diberikan untuk turut membantu menguatkan dan membantu pengarakteran tokoh Adi yang penakut; 2) Ibu Gadis, dan 3) Bapak Gadis. Kehadiran tokoh Ibu Gadis sebenarnya memberikan peran dalam relasinya dengan tokoh Randu dalam mencari Gadis di rumahnya. Ini sekaligus menguatkan penggambaran upaya Randu dalam mencari dan mengkhawatirkan Gadis. Demikian pula tokoh Bapak Gadis, peran yang diberikan memang tidak banyak porsinya. Namun demikian, peran tetap ada dalam membangun cerita.

    Pintu Menuju Penyelesaian Konflik Batin Tokoh Utama
    Sekuen cerita kecelakaan yang terjadi karena mobil Gadis menabrak seorang perempuan adalah awal pertemuan dan perkenalan Gadis dengan seorang perempuan bernama Rudi. Perkembangan cerita kemudian berlanjut pada ranah kepercayaan tokoh Gadis kepada orang lain setelah sekian lama perasaan itu hilang, pasca peristiwa yang menghancurkan perasaan cintanya. Sosok tersebut adalah Rudi. Rudi adalah sosok yang mampu memberikan kembali semangat dalam hidup Gadis, membuatnya tersenyum, dan memberikan ketenangan dan kedamaian.

    Namun demikian, untuk menuju sampai keadaan tersebut, cerita tidak berjalan begitu saja. Ini yang berbeda dengan cerpennya. Di sinilah pentingnya kehadiran tokoh Adi dalam film. Melalui tokoh ini, terbangun jalan bagi Gadis untuk kembali bertemu dengan Rudi melalui bangunan karakter Rudi. Melalui tokoh Adi, pertemuan kedua antara Gadis dan Rudi pasca kecelakaan di jalan raya menjadi bisa terjadi lagi. Gambar berikut menunjukkan sekaligus menjelaskan hal tersebut.

    Gambar 1. Penggambaran peran hadirnya tokoh Adi dalam film dalam membangun cerita, sebagai pembuka jalan hubungan lebih lanjut antara tokoh Gadis dengan Rudi.

    Rangkaian gambar di atas menunjukkan hadirnya tokoh Adi dalam adegan mengembalikan kunci mobil Gadis yang baru dipinjamnya. Pada gambar 1, tokoh Adi (tokoh tambahan yang hanya muncul di dalam film) mengembalikan kunci mobil kepada Gadis, kakaknya. Gambar 2, Adi memberikan secarik kertas yang ditemukan oleh Kiki (teman Adi, tidak dihadirkan di dalam cerita ini, tokoh Kiki hadir hanya sebatas disebutkan oleh tokoh Adi) di jok depan mobil Gadis. Kertas tersebut ternyata berisi puisi dan di bagian akhir puisi tertulis sebuah nama: Rudi.
    Cerita itulah yang kemudian menjadi jalan untuk Gadis kembali bertemu dengan Rudi, untuk berani menemui Rudi. Dalam rangkaian cerita dalam film, tokoh Gadis memang dibangun dengan belum mengetahui nama perempuan yang tertabrak hari lalu. Melalui puisi tersebut Gadis menjadi tahu. Melalui puisi itu, Gadis memiliki cara untuk bertemu dengan Rudi. Rangkaian gambar berikut menceritakan kedatangan Gadis ke warung Pak Dibyo untuk mengembalikan puisi milik Rudi, sekaligus upaya untuk menemuinya.


    Gambar 2. Adegan Gadis datang ke warung Pak Dibyo untuk menemui Rudi, untuk mengembalikan puisi miliknya yang tertinggal di mobil hari lalu.

    Dalam rangkaian gambar di atas digambarkan pertemuan kedua antara Gadis dengan Rudi. Pada gambar 1 tergambar Rudi tengah memulai bekerja dengan membersihkan meja dan akan memulai buku penghitungan hari itu, dari belakang muncul Gadis dan mencari Rudi. Pada gambar 2 dan 3 tergambar obrolan Gadis dan Rudi pada saat dan pasca Gadis memberikan puisi milik Rudi. Di situlah terjadi perkenalan nama antara Gadis dengan Rudi.

    Bukan hanya itu, peran dan fungsi hadirnya tokoh Adi dalam cerita dikuatkan juga dengan adegan pada sekuen berikutnya, yaitu pada sekuen keterlambatan Adi dalam menjemput Gadis. Kisah ini berawal dari cerita Gadis yang datang ke warung Pak Dibyo untuk mencicipi menu saus tiram paling enak sedunia. Gadis pun gelisah menunggu kedatangan Adi yang terlambat datang menjemputnya. Melalui pembicaraan telepon, Gadis berusaha menghubungi adiknya (terlihat pada gambar 1 rangkaian gambar di bawah ini). Keterlambatan Adi menjemput Gadis, membuat Gadis pulang berjalan kaki dengan ditemani oleh Rudi. Pada saat itulah pembicaraan dan perkenalan lebih lanjut berjalan. Bukan hanya itu, Gadis juga mendapatkan banyak pelajaran hidup dari seorang perempuan bernama Rudi (tergambar dalam gambar 2).


    Gambar 3. Adegan keterlambatan Adi menjemput kakaknya sehingga membuat Gadis pulang berjalan kaki dengan ditemani Rudi.

    Meskipun akhirnya antara Gadis dan Adi bertemu di jalan saat adiknya hendak menjemputnya (gambar 3), tetapi Gadis justru menolak untuk pulang bersama dengannya. Ia memilih pulang berjalan kaki bersama Rudi. Di sinilah kedekatan antara Gadis dan Rudi semakin terbangun.
    Dengan membandingkan antara cerpen dengan film, sekuen ini merupakan sekuen tambahan yang hanya ada di dalam film. Sekuen ini merupakan bentuk perluasan cerita. Penambahan sekuen ini juga semakin menguatkan peran penambahan tokoh Adi dalam cerita, dalam relasinya dengan tokoh Gadis dan Rudi.

    Demikianlah, hadirnya tokoh Adi di dalam film TD memiliki peran yang signifikan dalam mendukung jalannya cerita. Perasaan canggung dan ketakberanian yang dimiliki oleh tokoh Gadis, sedikit demi sedikit tersingkir dengan hadirnya peran yang dibawa oleh tokoh sampingan, keterpaksaan yang ternyata justru menjadi jalan. Lebih jauh lagi, peranan dihadirkannya tokoh Adi adalah membangun atau membuka jalan perkenalan dan pertemanan lebih dalam antara tokoh Gadis dan Rudi. Dengan peran tersebut, terbangun cerita tokoh utama (Gadis) dapat terlepas dari tekanan perasaan dari gelap dan sendu (meminjam istilahnya Melly Goeslaw dalam cerpennya halaman 15) di masa lalu. Peran yang dibawakan melalui penghadiran tokoh tambahan adalah sebagai kunci jalan pada penyelesaian konflik batin yang dialami oleh tokoh utama dalam cerita.

    Pintu Menuju Pertemuan Cinta

    Selain menjadi pembuka kunci jalan perkenalan lebih dalam dan upaya penyelesaian konflik batin tokoh utama, hadirnya tokoh Adi di dalam film TD juga berfungsi besar sebagai pintu menuju pertemuan cinta Randu.
    Randu adalah sosok yang sangat mencintai Gadis, selalu memberi perhatian penuh pada Gadis, selalu berharap Gadis bisa menjadi kekasihnya, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan dari Gadis. Sebaliknya, Gadis selalu menjauh dan bahkan membenci Randu. Hari-demi hari Randu selalu merasa dikecewakan dan dibuat tidak mengerti oleh sikap Gadis. Randu selalu berusaha mencuri hati Gadis, tetapi selalu dibalas dengan sikap yang dingin dan tidak mau mengerti oleh Gadis. Trauma masa lalu yang dialami oleh tokoh Gadis telah membentuk karakter Gadis menjadi perempuan yang tak lagi dapat mempercayai orang lain (terutama dalam persoalan cinta), tertutup, dan selalu murung.

    Randu selalu mengejar dan Gadis yang selalu berlari seringkali membuat kesal dan kalut perasaan Randu. Sampai akhirnya Randu merasakan perubahan drastis yang terjadi pada diri Gadis, mulai dari tidak pernah masuk kuliah, tidak pernah ada di rumah tiap kali di cari di rumahnya, tidak pernah bisa dihubungi lewat handphone-nya, dan seterusnya. Maka Randu mulai berusaha mencari tahu sebab-musababnya. Akan tetapi upayanya selalu saja tidak berhasil karena setiap kali ia mencari ke rumahnya, Gadis tidak pernah ada di rumah.

    Dalam kondisi yang demikian tokoh Adi dihadirkan. Pengarakteran tokoh Adi serta didukung setting dan hadirnya tokoh Surti, pembantu, memberikan jalan terjawabnya permasalahan tersebut. Berikut cuplikan gambarnya.


    Gambar 4. Rangkaian scene yang menggambarkan cerita Randu menemukan titik jawaban atas permasalahan Gadis melalui perantara tokoh Adi.

    Berdasarkan rangkaian gambar di atas dilukiskan jalannya cerita atau proses terjawabnya teka-teki yang dihadapi Randu. Mula-mula cerita bergerak ke adegan Adi yang tengah mengerjakan tugas di ruang tengah dengan meminjam laptop Gadis dan ditunggui oleh Surti, pembantunya (gambar 1). Suasanya gelap karena lampu yang padam membuat Adi tidak berani mengerjakan tugasnya di kamar Gadis. Pada saat itu datang Randu untuk mencari Gadis (gambar 2), tetapi Gadis belum juga pulang. Sesaat kemudian ada telepon dari Ibunya Adi yang sedang berada di luar kota kota. Saat itulah Randu ditinggal sendirian di ruang tersebut bersama laptop Gadis. Lagi-lagi penciptaan karakter Adi yang penakut dibuat begitu mendukung jalannya cerita ini karena dia juga harus ditemani oleh Surti, pembantunya saat menerima telepon. Melalui tokoh Adi-lah persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Randu terbuka jawabannya. Pada saat itulah Randu iseng melihat laptop Gadis, dan menemukan file berjudul TUHAN (yang dipasang sebagai shortcut) di laptop Gadis. Randu pun lalu meng-klik-nya dan membaca surat-surat kepada Tuhan yang selalu ditulis oleh Gadis (gambar 3, 4, dan 5). Bermula dari peristiwa itulah akhirnya terjawab kegelisahan Randu pada sikap Gadis.


    Struktur Cerita Cerpen TD vs Kutub Transformasi pada Film

    Adi adalah tokoh baru di dalam film TD yang diciptakan karena kehadirannya dipandang perlu oleh sineas. Tokoh ini merupakan penambahan (perluasan) dalam penggarapan cerita. Tokoh Adi sendiri tidak ditemukan di dalam cerpen TD. Pembahasan kali ini akan mencoba melihat bagaimana peranan tokoh Adi—yang ada di dalam film—digantikan (diceritakan, dikonstruk) di dalam cerpen.
    Pertama mari coba kita lihat dalam hal relasi tokoh Adi—dalam film TD—dengan tokoh Gadis dan Rudi. Di dalam film, jelas terlihat tokoh Adi memiliki peranan yang cukup penting dalam membuat kedua tokoh utama, yaitu Gadis dan Rudi, menjadi lebih dekat dan akrab, baik melalui sarana cerita ‘secarik puisinya Rudi’ maupun ‘keterlambatan menjemput Gadis pada malam itu’. Adi sekali lagi menjadi pintu masuk dalam relasi ini.

    Kaitannya dengan point yang pertama, di dalam cerpen sama sekali tidak membutuhkan tokoh perantara, cerita mengalir begitu saja. Pasca kecelakaan yang terjadi karena mobil Gadis menabrak seorang perempuan, maka begitu pula terjadi perkenalan Gadis dengan Rudi, dan berlanjut dengan hubungan pertemanan yang lebih akrab, dekat, bahkan kemudian Gadis jatuh cinta pada Rudi. Berikut kutipannya.

      “Gue yang mestinya nangis, bukan lo! Gue kan yang lo tabrak, gue Rudi. Nih, gue pinjemin sapu tangan.”
      Perempuan itu ternyata bernama Rudi, mirip sekali dengan nama laki-laki. Penampilannya pun bisa dibilang tomboy, tapi tetap cantik. Badannya tinggi dan tegap.
      (Guslaw, 2005:12-13)

    Dari kutipan di atas kita menemukan perbedaan yang kentara jika dibandingkan dengan filmnya. Di dalam cerpen, perkenalan Gadis dengan Rudi terjadi secara langsung antara mereka berdua. Dalam konteks ini, Rudilah yang memperkenalkan diri dengan menyebutkan gue Rudi. Akan tetapi, di dalam film Gadis mengetahui nama perempuan yang ditabrak bernama Rudi bermula dari secarik kertas berisi puisi yang ditemukan oleh Adi. Inilah keserta-mertaan yang terjadi dalam peristiwa-demi peristiwa di dalam cerpen. Cerpen tidak membutuhkan perantara sehingga tidak menghadirkan tokoh, seperti, Adi—seperti yang terdapat dalam film, untuk memberikan peranan sebagai perantara atau jalan masuk. Penciptaan tokoh Adi di dalam film, tentu saja merupakan bentuk hasil resepsi penulis skrenario dan sineas lainnya.

    Sedangkan point yang kedua, adalah penambahan (perluasan) adegan atau sekuen yang hanya dimiliki oleh genre film sebagai hasil transformasinya. Cerpen sendiri tidak memiliki sekuen ini. Hal ini terkait dengan point pembahasan pertama, bahwa perkenalan dan kedekatan antara Gadis dengan Randu berjalan ‘begitu saja’ atau ‘serta-merta’. Setelah mereka berkenalan, dengan diawali insiden kecelakaan, hubungan pertemanan mereka terus berjalan. Bahkan sampai akhirnya Gadis jatuh cinta pada Rudi.

    Penggarapan cerita di dalam film TD sendiri—dalam even ini—begitu berbeda dengan cerita di dalam cerpennya. Di dalam cerpen diceritakan kalau Gadis sering pulang larut malam, dan dalam pada ini Rudi selalu mengantarkannya hingga ke rumah. Sedangkan di dalam film, peristiwa ini terjadi hanya sekali. Hal ini sekaligus menguatkan pentingnya menghadirkan tokoh Adi di dalam film, pentingnya peranan tokoh Adi dalam relasinya dengan Gadis dan Rudi. Penambahan tokoh Adi di dalam film menjadi penting dan memberi pengaruh yang besar terhadap jalannya peristiwa selanjutnya.

    Seperti telah diuraikan di atas, bahwa tokoh Adi memegang peranan penting dalam memecahkan persoalan dan keresahan tokoh Randu. Adi telah menjadi tokoh sebagai jalan masuk Randu menemukan jawaban atas Gadis. Lalu bagaimana dengan cerpen?
    Dalam relasinya dengan cerita ini, jika film menghadirkan tokoh Adi untuk dikonstukkan sebagai jalan masuk tokoh Randu menemukan jawaban atas kemelutnya selama ini, cerpen tidak memiliki ini. Seperti pembahasan sebelumnya—dalam relasi tokoh Adi dengan Gadis dan Rudi—dalam relasi ini pun kejadiannya terjadi serta-merta, tanpa perantara. Perhatikan kutipan berikut.

      Kegelisahan Randu semakin besar ketika menemukan Gadis dari hari ke hari terus berubah. Gadis yang sekarang tidak seperti Gadis yang kemarin. Sekarnag wajah Gadis mengekspresikan sesuatu yang tidak pernah dijumpai Randu sebelumnya. Randu terus mencari tahu penyebabnya, sampai akhirnya Randu mulai mengetahui ada seseorang bernama Rudi yang kini selalu mengisi hari-hari Gadis. randu cemburu pada Rudi yang belum diketahuinya. Randu pun semakin gencar mengejar cinta Gadis, segala upaya dilakukannya untuk mendapatkan cintanya. (Goeslaw, 2005: 19)

    Di situlah kita melihat bahwa tidak adanya perantara bagaimana Randu menemukan jawaban atas kegelisahannya selama ini. Tidak ada perantara bagaimana Randu kemudian mengetahui ada orang bernama Rudi dalam hidup Gadis, yang telah membuat kehidupan Gadis berubah. Di sinilah ketiadaan peran tokoh Adi seperti yang dimiliki oleh film.

    Berdasarkan uraian perbandingan antara cerpen dan film sebagai hasil transformasinya seperti telah diuraikan di atas, dapat dibuat tabel perbandingan sebagai berikut.

    Tabel Perbandingan Aspek Transformasi dalam Cerpen dan Film

    Inilah perpedaan yang dimiliki antara film dengan cerpen, dan bagaimana perluasan dengan menambahkan tokoh Adi begitu besar peranannya dalam kelangsungan alur cerita. Tokoh Adi telah menjadi pintu masuk, menjadi perantara, dalam relasi-relasi antara tokoh Gadis dengan Rudi, dan Rudi dengan Gadis.

    Penutup
    Tokoh Adi adalah tokoh tambahan (perluasan) yang ada pada genre film dan tidak ditemukan dalam cerpen. Penambahan ini menjadi begitu penting. Tokoh Adi memiliki peranan yang sangat signifikan dalam membangun alur cerita seputar tokoh utama. Peranan yang begitu penting terlihat dalam relasinya antara tokoh Adi dengan tokoh Gadis dan Rudi, serta relasi antara Adi dengan tokoh Randu dan Gadis. Selain tokoh Adi, dalam film transformasi cerpen tersebut juga diciptakan tokoh tambahan lain, seperti Ibu, Ayah, dan Surti (pembantu). Selain berperan atau berfungsi dalam turut membangun karater tokoh, hadirnya tokoh tambahan tersebut juga turut membangun suasana yang dialami tokoh utama. Ini sekaligus yang membedakan dengan cerpennya.

    Pembahasan yang singkat ini mudah-mudahan dapat memberikan informasi yang berguna dan memberikan kontribusi yang berarti pula dalam kaitannya dengan keilmuan sastra, khususnya dalam kajian ekranisasi yang masih relatif baru—khususnya di Indonesia.

    Daftar Pustaka

  • Bluestone, George. 1957. Novels into Film. Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press.
  • Cattrysse, Patrick. 1997. “Unbearable Lightness of Being: Film adaptation seen from a different perspective, The” diunduh dari http://findarticles.com/p/articles/mi_qa3768/is_199701/ai_n8747779 pada tanggal 17 Desember 2008, pukul 01:08 wib
  • Chatman, Seymour. 1980. Story and Discourse: Narrative Strukture in Fiction and Film. Ithaca and London: Cornell University Press.
  • Cho, Sung-eun. TT. “Intertextuality and Translation in Film Adaptation”. Atikel. Diunduh dari http://www.ibas.re.kr/journal/pdf/12_4.pdf pada tanggal 26 desember 2008, pukul 03:44 wib.

  • Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
  • Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah.

  • Engelstad, Arne. TT. “Literary Film Adaptation as Educational Text” diunduh dari http://www.caen.iufm.fr/colloque_iartem/pdf/engelstad.pdf pada tanggal 26 Desember 2008, pukul 04:09 wib
  • Goeslaw, Melly. 2005. Arrrrrgh…. Yogyakarta: Gagas Media.

  • http://en.wikipedia.org/wiki/Literary_adaptation. “Literary Adaptation”, diunduh pada tanggal 13 Januari 2009, pukul 17:27 wib.
  • Parys, Thomas Van. 2007. “Film Adaptation and Its Discontens: From Gone with the Wind to The Passion of the Christ”. Diunduh dari http://www.imageandnarrative.be/affiche_findesiecle/vanparys.htm pada tanggal 26 Desember 2008, pukul 03:14 wib.

  • Pratista, Himawan. 2008. Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Poestaka.
  • Siagian, Gayus. 2006. Menilai Film. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

  • Soedjarwo, Rudi. 2005. Tentang Dia. Film Produksi SinemaArt Production.
  • Venayaksa, Firman. 2005. Bedah Novel Brownies: Pertarungan antara Ideologi dan Psikologi. http://venayaksa.multiply.com/journal diakses pada 30 Januari 2008, pukul 04:20 wib.

    • *) Tulisan ini dimuat dalam jurnal sastra STAINU Purwokerto edisi Maret 2010

  • Perayaan Malam

  • [Suseno]

    seperti kembang malam
    aku menyaksikan mereka bermekaran
    pada senyum senyum mengembang
    di antara kerlip lampu lampu
    dan gemuruh sorai ruangan
    pasca hujan hari lalu
    :guntur yang mengancam
    adalah sindrom mimpi yang menegangkan
    meledak bisul pada nanah
    dibasuh airnya

    dan pada tangis-senyum yang terlahirkan
    aku ada di tiap sudutnya
    setia
    meski tanpa kata apa apa

    dan ceriaku
    persis seperti lega yang kalian punya

    Semarang, 18 Desember 2009, 11.50

  • Political Transformation in Indonesian Literature Filmisation: an Ecranisation Study on Lintah and Melukis Jendela Short Stories into Mereka Bilang, Saya Monyet! Film by Djenar Maesa Ayu in Hutcheon’s Postmodernism Perspective*)

    Oleh: Suseno WS

    Mereka Bilang, Saya Monyet! (later on abbreviated to MBSM) is a film raised up from two short stories, they are Lintah and Melukis Jendela. A uniqueness in such transformation is two stories becoming a story. The result of such transformation is a postmodern film and full of significant changes. This research entitled “Political Transformation of Indonesian Literature Filmization: An Ecranisation Study on Lintah and Melukis Jendela Short Stories into Mereka Bilang, Saya Monyet! Film by Djenar Mahesa Ayu in Hutcheon’s Postmodernism Perspective” tries to describe and to exploit existing changes in the transformation and to study ideological-political aspects from those changes as well. Ecranisation theory expressed by Eneste (1991) shows that filmization always emerges changes. Ecranisation is also meant by changing process. The changes might happening in ecranisation is reducing or cutting, adding, and varied changes as well. This theory is used to find out the changes emerging in work transformation becoming material object in this research. By Hutcheon’s postmodernism perspective, this research then continues to study ideological-political aspects in existing representation. The results of this research are, first, the presentation of significant changes in the transformational work including the changes of main character’s childhood into adulthood, the creation of new characters, the changes of characters’ characteristics, the changes of story setting, and plot. Second, these transformations produce a postmodern film. The postmodernity of the film presents in its fragmented plot and the dualities of main characters’ characteristics. Third, MBSM film, through its postmodernism representation, is a counter to power domination from the stronger toward the weaker. Fourth, MBSM film proclaims voices of ideology: an ideality breakthrough, a norm breakthrough, and an escape from a haunted past burden. Fifth, MBSM film is a response of ‘cosmopolitan literature’ discourse. MBSM, with its representation, has uttered that normality or ideality is cultural product, which is occasionally used for labeling and perpetuating domination and power. Therefore, an acceptance toward different way of seeing so that there are no polarizations of ideal-not ideal and of right-wrong is necessary.

    Keywords: transformation, ecranisation, filmization, ideology, and post-modernism politic, fragrant literature.

  • Untuk melihat intisari (dalam bahasa Indonesia) silakan klik di sini

      *) This work is A Thesis presented to the board of examiners in partial fulfillment of requirement for Magister Degrees in Literary Studies at Gadjah Mada University by Suseno, January 2010.
  • MUI Berencana Tarik Wakilnya di Lembaga Sensor Film

    Jakarta – Banyak film yang diloloskan Lembaga Sensor Film (LSF) namun dianggap tidak
    layak tayang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI pun mempertimbangkan
    untuk menarik wakilnya di LSF, karena dinilai tidak efektif.

    “Kita pertimbangkan akan ditarik atau dipertahankan. Sedang kita kaji,” ujar Ketua MUI Amidhan di kantornya, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (6/1/2009).

    Amidhan menjelaskan MUI memiliki seorang wakil di LSF, Zainut Tauhid. Namun karena banyaknya film yang harus disensor seringkali tidak terkontrol oleh perwakilan MUI. “Banyak yang tidak sempat diperiksa,” terangnya.

    Karena dinilai tidak efektif, maka MUI memikirkan untuk menarik wakil tersebut. Namun kesepakatan ini belum final, karena MUI harus mengkaji bagaimana solusi untuk meningkatkan pengawasan terhadap film yang beredar.

    “MUI sebenarnya punya kriteria yang jelas, film yang mengandung pornografi,
    kekerasan, dan tahyul dilarang tayang,” terangnya.

    sumber: detikNews