Ekranisasi dan Posisinya dalam Teori Sosial Lain

Oleh: Suseno WS

Istilah ‘Ekranisasi’ yang dikenalkan oleh Pamusuk Eneste (1991) dalam bukunya yang berjudul Novel dan Film meskipun tampak sangat dangkal isi dan jangkauan teorinya tetap memberikan satu khasanah baru dalam teori maupun kajian sastra ke film maupun adaptasi secara umum.

Patut diakui memang bahwa keberadaan teori ini masih belum mapan. Apalagi kalau kita benar-benar mempelajari isi teori tersebut. Akan tetapi, lahirnya istilah ‘ekranisasi’ tersebut, yang pada perkembangan berikutnya pada beberapa perguruan tinggi maupun pembahasan seputar adaptasi karya sastra ke film, merupakan satu bentuk respons yang sangat cerdas terhadap munculnya fenomena transformasi atau adaptasi karya sastra ke film yang pada perkembangan terakhir cukup menunjukkan perkembangannya. Tentu saja bukan hanya di negara barat, tetapi juga di Indonesia. Istilah ‘ekranisasi’ pun kemudian sering digunakan dan menjadi bahan rujukan pada beberapa kajian atau penelitian sastra.

Ekranisasi dikatakan sangat terbatas jangkauan dan pembahasannya karena hanya berbicara perubahan dalam bentuk penambahan, pengurangan/penciutan, dan perubahan dengan variasi. Itu pun masih ditambah lagi dengan penjelasan dan uraiannya yang tidak menunjukkan satu bentuk analisis yang mendalam. Oleh karena itu, untuk bisa mendapatkan kajian dan analisis yang lebih mendalam, pada praktik kerja penelitian ekranisasi dibutuhkan teori lain yang mendukung, sesuai dengan persoalan yang diangkat dalam penelitian tersebut.

Lalu bagaimana posisinya dengan teori lain?
Ada beberapa teori yang dapat dipetakan kekerabatannya dengan teori ekranisasi, yaitu Alih Wahana (Sapardi Djoko Damono, 2005) Adaptasi (Hutcheon, 2006), dan Resepsi (Iser, 1987). Kalau digambarkan dalam bentuk diagram adalah sebagai berikut.

Dari diagram tersebut, tampak bagaimana kekerabatan dan posisi teori ekranisasi di antara teori Alih Wahana ataupun Adaptasi dan Resepsi. Bisa dijelaskan secara sederhana di sini bahwa ekranisasi merupakan bagian dari adaptasi dan resepsi.
Lalu bedanya di mana? Ekranisasi memiliki batasan dan spesifikasi kajian yang lebih khusus, yaitu adaptasi karya sastra ke film. Batasan yang demikian tentu saja tidak dimiliki oleh teori lain, seperti alih wahana, adaptasi, dan resepsi, karena kesemuanya memiliki batasan dan jangkauan (genre) yang lebih luas. [SWS]

—————-
Sumber Rujukan

1. Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
2. Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah.
3. Hutcheon, Linda. 2006. Theory of Adaptation. New York: Routledge.
4. Iser, Woflgang.1978. The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. London: The Johns Hopkins University Press.

7 thoughts on “Ekranisasi dan Posisinya dalam Teori Sosial Lain

  1. salam,

    Pak Suseno,,saya mohon pertolongannya,…
    saya lagi kbingungan,,
    kalo adaptsi dari novel ke drama,itu ada istilahnya ngga??

    soalnya jarang sekali ada yang bahas soal novel yang diadaptasi ke naskah..
    oh ya,kira-kira buku apa yg tepat untuk memperjelas masalah “adaptasi novel ke media teater”

    trimkasih pak,,saya tunggu balasannya…

    salam ,,

  2. ayo jangan bingung-bingung…
    kalau Hutcheon menyebutkan: “salah kalau kita berpikir bahwa adaptasi hanya terjadi pada sastra (novel) ke film saja. adaptasi bisa terjadi dari berbagai genre karya”
    sementara Sapardi Djoko Damono membuat istilah “alih wahana” yang diartikan sebagai perubahan (alih) dari wahana satu ke wahana yang lain, genre karya tertentu ke genre lain. bahkan misalnya dari puisi ke patung.

    jadi kalau menurut saya, adaptasi dari novel ke drama juga bisa diberi istilah adaptasi, atau alih wahana.
    mengenai istilah memang ada beberapa ahli yang menggunakan atau melahirkan istilah yang berbeda, jadi tinggal lebih condong ke pendapat siapa. istilah-istilah yang kurang lebih sejajar ada: adaptasi, transformasi, alih wahana.
    bahkan khusus untuk adaptasi sastra ke film ada yang memopulerkan istilah filmisasi, sinematisasi, atau malah ekranisasi (seperti yang diungkapkan Eneste).

    demikian terima kasih. maaf kalau belum memberi penjelasan yang cukup.

  3. WahH! Untung dapet infonya, rencananya saya jg ingin ambil tema ekranisasi sastra untuk skripsi saya.
    Terima kasih Pak Suseno untuk informasinya🙂

  4. Alhamdulilah, masih hidup Pak😀

    Di Universitas Indraprasta PGRI. Tapi sepertinya saya nggak jadi deeh ambil ekraniasai mentok di skenario >_<

  5. Assalamu’alaikum Mas Suseno…
    saya mau bertanya tentang masalah Ekranisasi. sebelumnya terimakasih karena tulisan-tulisan Mas ini sangat membantu saya. saya tertarik dengan masalah ini. akan tetapi, ketika saya hendak mengetahui lebih jauh lagi, saya terkendala dengan masalah teori-teori yang menunjang proses transformasi (Ekranisasi). pertanyaannya adalah, teori-teori apa sajakah yang menunjang proses Ekranisasi tersebut. siapa saja tokohnya, dan adakah beberapa referensi mengenai masalah tersebut. terimakasih…

  6. Terima kasih Mas Faisal sudah berkunjung.

    Memang saya juga merasakan hal yang sama, keterbatasan referensi ketika hendak membahas ekranisasi/transformasi sastra ke film. Dalam beberapa kajian yang saya lakukan, dengan pendekatan atau bantuan teori lain yang saya pakai, itu hasil otak-atik saya terhadap objek peneltian dan kajian saya. Hal tersebut saya lakukan karena ketidakpuasan saya pada ‘teori’/buku-nya Eneste yang [hanya] berhenti ‘di situ’. Maka saya pun menyimpulkan bahwa kajian ekranisasi akan selalu membutuhkan hadirnya teori lain sebagai pendukung atau justru tangga berikutnya untuk mencapai sesutau yang lebih tinggi, atau alat tambahan untuk bisa mengeruk lebih dalam.

    Kalau teori apa yang menunjang, menurut saya, teori-teori sosial yang selama ini dipakai untuk mengkaji sastra bisa dipakai dalam [untuk] mendukung kajian ekranisasi. Sementara mengenai tokoh, kalau di Indonesia memang bisa dikatakan baru Eneste. Akan tetapi kalau di barat telah banyak kajian-kajian adaptasi/transformasi sastra ke film yang dilakukan. Dan salah satu teoretikus yang telah melahirkan satu buku teori adaptasi adalah Linda Hutcheon.

    Semoga menginspirasi. Terima kasih.
    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s