Saatnya Film Adaptasi Berjaya

KALAU ada benang merah penghubung lima film yang didaulat sebagai kandidat Film Terbaik versi Academy Awards, barangkali kata adaptasi merupakan jawabannya. Betapa tidak, kelima film tersebut merupakan film adaptasi dari media novel, cerita pendek, dan kisah hidup. Film itu adalah “The Curious Case of Benjamin Button”, “Slumdog Millionaire”, “Milk”, “Frost/Nixon”, dan “The Reader”.

“The Curious Case of Benjamin Button” yang memasang Brad Pitt sebagai pemeran utamanya, merupakan hasil adaptasi dari cerita pendek yang dihasilkan oleh F. Scott Fitzgerald. Kisah percintaan lintas usia dalam “The Reader”, merupakan adaptasi dari sebuah novel Jerman berjudul sama karya Bernhard Schlink. Sedangkan “Slumdog Millionaire” yang merupakan Film Terbaik versi Golden Globe 2009, merupakan adaptasi dari novel perdana Vikas Swarup, seorang diplomat India.

Apakah semangat adaptasi tersebut merupakan tolok ukur dari kejenuhan penggarapan ide baru? Atau bisa jadi, adaptasi dilakukan karena tantangan yang didapatkan tatkala melakukan proses pemindahan media menjadi sedemikian menarik.

Walaupun sama-sama merupakan adaptasi, dua film terakhir yang akan disebutkan, “Milk” dan “Frost/Nixon”, lebih memunculkan suasana politis. “Milk” yang digarap oleh sutradara Gus Van Sant, bercerita tentang politis gay asal New York Harvey Milk yang pindah ke San Fransisco.

“Milk” sendiri, diangkat dari kisah nyata Harvey Bernard Milk, yang dalam filmnya diperankan secara meyakinkan oleh Sean Penn. Film dibuka dengan nuansa hitam putih berupa kliping koran dan dokumentasi mengenai pemberitaan kaum homoseksual di Miami, Los Angeles, dan New York di akhir tahun 1960-an. Suatu pembuka yang representatif karena pada menit-menit berikutnya, penonton disuguhkan perjuangan Milk untuk mendapat kecenderungan seksualitas yang setara. Ya, Milk adalah seorang homoseksual.

Cerita kemudian berpindah dengan cepat menuju dapur Milk pada 1978, yang didapati sedang merekam kisah hidupnya dengan sebuah tape recorder. Dalam karier politiknya, Milk terkenal gencar memperjuangkan hak kaum gay, lesbian, maupun transgender. Ia juga mengajukan diri sebagai anggota Dewan Pengawas San Fransisco pada 1977. Tujuannya tentu terlihat jelas, agar bisa memperlebar peluang memperjuangkan hak kaumnya.

Di kalangan “bawah tanah”, Milk bahkan memiliki sebuah toko kamera yang berada di kawasan Castro, San Francisco, yang kemudian berkembang menjadi tempat perlindungan bagi para komunitas gay dari berbagai daerah di Amerika Serikat.

Dibandingkan dengan kisah “saudaranya” terdahulu, “Brokeback Mountain”, “Milk” jelas lebih istimewa. Kalau pada “Brokeback Mountain”, kisah cinta Ennis Del Mar dan Jack Twist hanya dimunculkan pada satu dimensi, “Milk” lebih dari itu. Isu yang dipaparkan dalam “Milk”, konon memanaskan situasi politik di Amerika. Pasalnya, di California kaum gay sedang menuntut haknya untuk boleh menikah. Namun, pemerintah negara bagian California menolaknya.

Dengan cerita yang lebih bermakna, apakah “Milk” dapat melebihi prestasi yang telah diukir “Brokeback Mountain” ketika menyandang predikat Film Terbaik versi Golden Globe 2006? Mari jangan terlalu banyak berspekulasi. Sebab, empat kandidat lain juga memiliki syarat yang cukup untuk dapat menyabet predikat Film Terbaik Oscar 2009.

Film yang lain, “Frost/Nixon”, juga tak kalah menampilkan nuansa politis yang tajam. Bercerita tentang seorang jurnalis berkebangsaan Australia bernama David Frost, film ini mencoba untuk menguak skandal Watergate yang melibatkan presiden Richard M. Nixon .

Sutradara yang sebelumnya mengangkat adaptasi novel “The Da Vinci Code” dalam bentuk film, Ron Howard, kali ini mengadaptasi “Frost/Nixon” dari beberapa wawancara dengan Nixon di salah satu acara televisi pada 1977.

Boyle vs Fincher

Lagi-lagi, film “The Curious Case of Benjamin Button” dan “Slumdog Millionaire” bertarung dalam ajang perhelatan akbar dunia perfilman. Sebelumnya, kisah unik dan sinematografi mapan ala David Fincher dalam “The Curious Case of Benjamin Button”, tak sanggup mengalahkan semangat indie yang diguratkan oleh “Slumdog Millionaire” dalam Golden Globe 2009.

Dalam nominasi Oscar yang diumumkan melalui oscar.com, “The Curious Case of Benjamin Button” kali ini meraih 13 nominasi bergengsi. Misalnya, di antaranya Film Terbaik, Aktor Terbaik (Brad Pitt), Aktris Pendukung Terbaik (Taraji P. Henson), dan Sutradara Terbaik (David Fincher).

Sementara itu, “Slumdog Millionaire”, hanya meraih 10 nominasi. Di antaranya, Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Danny Boyle), Editing (Chris Dickens), dan Tata Sinematografi (Anthony Dod Mantle).

Tak hanya itu, dalam ajang Academy Award ke 81 yang akan dilangsungkan pada 22 Februari mendatang ini, sang sutradara pun ikut bersaing. Danny Boyle versus David Fincher.

Dalam dunia perfilman sendiri, nama Fincher mencuat lewat “Fight Club” (1999) yang menampilkan akting memukau duet Brad Pitt dan Edward Norton. Setelah itu, pada 2002 ia menggarap “Panic Room” yang menampilkan kekuatan akting solo Jodie Foster.

Sebelumnya, ia lebih dikenal ketika menggarap film dokumenter dan video klip sejumlah penyanyi dan grup musik ternama. Sebut saja “Twenty Five” milik George Michael, “Fields of Gold” dan “Englishman in New York” milik Sting, dan “Big Ones You Can Look At” milik Aerosmith.

Sedangkan nama Boyle, mulai dikenal publik sejak sukses menggarap “Trainspotting” pada 1996. Namanya kembali terdengar ketika menyutradarai “The Beach” pada 2000. Namun, kiprahnya saat menyutradarai “28 Days Later” dan “Sunshine” kurang terdengar, menyusul anjloknya film ini di pasaran. (Endah Asih/”PR”)***

Sumber: PIKIRAN RAKYAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s