Film Adaptasi Karya Sastra

Film adaptasi dari karya sastra akhir-akhir ini kian menjamur. Sukses yang diraih oleh film adaptasi sebelumnya tampaknya cukup menginspirasi para pekerja film untuk turut menggunakan karya sastra sebagai ide penggarapan film mereka.
Diakui atau tidak, karya sastra memang kaya akan cerita-cerita yang bernas. Hal inilah yang kemudian menginspirasi para sineas untuk mengangkat cerita tersebut ke layar lebar. Apalagi jika didukung oleh popularitas novel yang, misalnya, mendapat predikat novel best seller. Ibarat dalam dunia bisnis, maka sineas dan penulis skenario membacanya sebagi peluang bisnis yang menjanjikan. Ide mengangkat karya sastra ke layar lebar memang telah berjalan sejak lama. Sederet film adaptasi yang turut memberi warna dunia perfilman Indonesia sejak dari tahun 70-an, diantaranya: Salah Asuhan (Asrul Sani, 1972) diangkat dari novel karya Abdoel Moeis, Si Doel Anak Betawi (Sjumandjaja, 1973) diangkat dari novel karya Aman Datuk Madjoindo , Atheis (Sjumandjaja,1974) dari novel Atheis karya Achdiat Karta Miharja, Roro Mendut (Ami Prijono, 1983), Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang difilmkan oleh Yasman Yazid dengan judul film Darah dan Mahkota Ronggeng (1983), Ca Bau Kan (Nia Dinata, 2002), hingga Ayat-Ayat Cinta -nya Hanung Bramantyo dan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata dengan sutradara Riri Reza (2008). Belum lagi film yang diangkat dari cerpen, seperti: Tentang Dia dan Mereka Bilang, Saya Monyet!. Serta yang terbaru dan masih tayang di bioskop-bioskop adalah Sang Pemimpi garapan Riri Reza yang diangkat dari novelya Andrea Hirata.

Dalam kenyataannya di lapangan, film-film adaptasi tersebut juga berahasil meraih sukses, baik dari segi penonton maupun segi kualitas karyanya itu sendiri. Bahkan di negara barat, film-film yang meraih sukses ternyata sebagian besar adalah film yang diangkat dari karya sastra.

Berikut ini adalah 10 film adaptasi karya fiksi maupun non fiksi yang diturunkan dalam laporan Cinema 21.

1. Ayat-ayat Cinta (Hanung Bramantyo) 2008

Novel Ayat-ayat Cinta (Habiburrachman El Shierazy)

Lepas dari segala kontroversi yang menyertainya, film ini sukses secara komersial. Entah kapan rekor film yang mencetak nyaris 4 juta penonton ini bisa terlewati lagi. Sukses lain yang menyertainya adalah hadirnya ceruk pasar yang sama sekali baru, pasar yang selama ini tak pernah disentuh oleh produser. Novel karya kang Abiek ini an-sich memang sebuah modal yang ampuh untuk diadaptasi ke layar lebar lantaran laris manis bak kacang goreng. Dan produser MD Pictures yang beruntung meminang karyanya untuk dibuatkan sebagai produk layar lebar. Dan hasilnya? Bisa dibayangkan sendiri terhadap sang empu: Hanung Bramantyo.

2. Gie (Riri Riza) 2005

Buku Catatan Harian Seorang Demonstran (Soe Hok Gie)

Sebuah adaptasi lepas lantaran Riri Riza masih harus riset di sana-sini untuk membuat skenario idealnya. Film ini sempat tercatat sebagai film termahal yang pernah dibuat di tanah air. Maklumlah, rumah produksi Miles Films memang tak mau tanggung-tanggung mencarikan ongkos produksi di atas Rp 7 milyar, konon membengkak hingga dua kali lipat, untuk mewujudkan film biopik ini. Menjadi menarik lantaran mengusung gagasan besar di dalamnya. Isu korupsi yang dituturkannya tetap marak hingga kini. Uniknya, aktor Nicholas Saputra konon tak mirip dengan Gie, namun aktingnya dianggap cukup untuk memperoleh Piala Citra lewat kategori aktor utama.

3. Eiffel…I’m in Love (Nasry Cheppy) 2003

Novel Eiffel…I’m in Love (Rachmania Arunita)

Era tahun 2000-an novel renyah teen-lit dan chick-lit melanda dunia sastra. Tak pelak ini ide yang bernas untuk produksi film. Pun yang terjadi di sini. Novel iseng-iseng karya Rachmania Arunita diangkat ke layar lebar dan sukses besar hingga dibikin versi revisi atau extended. Sukses ini mengilhami produser lainnya untuk mengadaptasi novel sejenis diangkat ke layar lebar. Namun tak ada yang mampu menyamai sukses yang diraih duet Samuel Rizal-Shandy Aulia. Tak hanya sampai di sana, rumah produksi film ini kemudian juga membuat film-film lain dengan resep yang nyaris sejenis: sepasang remaja dilanda cinta dan berlanjut dengan jalan-jalan ke luar negeri.

4. Arini (Masih Ada Kereta yang Akan Lewat) (Sophan Sophiaan)1987

Novel Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat (Mira W)

Sebuah melodrama yang sukses di ajang festival, terbukti sebuah Piala Citra berhasil disabet Pemeran Utama Wanita Widyawati serta beberapa unggulan untuk kategori lainnya. Kemudian sukses pula di pasar, terlaris IV di Jakarta hingga memperoleh Piala Antemas, FFI 1988. Kendati sumber ceritanya berasal dari karya penulis perempuan yang kental berbicara soal cinta, sutradara Sophan Sophiaan dengan jeli mampu menangkap film sebagai medium suara hatinya. Namun kali ini dengan cara lebih halus.

5. Lupus (Tangkaplah Daku Kau Kujitak) (Achiel Nasrun) 1987

Novel Lupus (Hilman Hariwijaya)

Awalnya adalah kisah bersambung di majalah Hai. Sebuah representasi sosok remaja era 80-an dengan gaya ngocol dan style rambut a la John Taylor, personil Duran Duran. Konon, Lupus sendiri merupakan personifikasi dari sang penulis, Hilman Hariwijaya. Lantaran sukses, sekuelnya segera menyusul. Pun dengan epigonnya yang coba-coba muncul. Almarhum Ryan Hidayat, sang pemeran Lupus tak pelak segera menjadi idola baru di zamannya.

6. Jaka Sembung Sang Penakluk (Sisworo Gautama Putra) 1981

Novel grafis Jaka Sembung

Banyak novel grafis lokal yang diadaptasi ke layar lebar. Namun nama Jaka Sembung yang paling melekat kuat bahkan hingga generasi masa kini. Buktinya, idiom Jaka Sembung Bawa Golok selalu disebut-sebut, padahal belum tentu mereka pernah membaca ceritanya ataupun menonton filmnya. Sebagai sebuah film, sosok Jaka Sembung patut digolongkan sebagai film cult, lantaran sungguh kaya dengan tipuan kamera. Setidaknya, ini merupakan salah satu film yang mengharumkan nama bangsa berkat teknologi yang diusungnya: kepala yang sudah putus bisa bersatu kembali dengan tubuh. Ini yang dinamakan ajian Rawerontek.

7. Gita Cinta dari SMA (Arizal) 1979

Novel Gita Cinta dari SMA (Eddy D Iskandar)

Galih dan Ratna adalah sepasang nama yang abadi di benak remaja era 1970-an akhir. Ya, tokoh usia belasan ini adalah inspirasi cinta yang melegenda macam tembang yang pernah dilantunkan oleh almarhum Chrisye. Setelah meraih sukses di pasaran, segera dilanjutkan dengan sekuel Puspa Indah Taman Hati. Tokoh Galih adalah sosok remaja selengean rekaan Eddy D Iskandar yang lekat benar dengan sosok Rano Karno. Sejatinya masih banyak lagi karyanya yang juga diadaptasi ke layar lebar. Namun tidak pernah ada yang sesukses ini.

8. Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya) 1977

Novel Badai Pasti Berlalu (Marga T)

Sebuah kisah drama romantis yang laris manis. Lebih tepat lagi jika disebutkan sebagai balada yang tragis. Idiom yang dipakai judul film ini sungguh beken, saking ngetopnya sering dikutip sebagai bagian dari pidato pejabat pemerintah. Bukan hanya filmnya, album soundtracknya pun tetap abadi hingga saat ini. Bahkan ketika film ini diremake 20 tahun kemudian oleh sutradara Teddy Soeriaatmadja, album soundtracknya turut pula didaur ulang oleh komposer Andi Rianto dengan langgam yang beraneka. Sedangkan nama Marga T menjadi bagian dari gelombang penulis wanita yang karyanya kerap dipakai sebagai amunisi untuk diadaptasi ke layar lebar. Yang lainnya ada Titie Said, Ike Supomo atau Mira W.

9. Cintaku di Kampus Biru (Ami Prijono) 1976

Novel: Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar)

Film drama percintaan dengan latar belakang kampus ini merupakan salah satu fim yang melambungkan nama Roy Martin, bintang muda film nan ganteng kala itu. Selain Roy, film ini juga dibintang oleh Rae Sita dan Yati Octavia.Film yang tidak terjebak pada streotipe film-film percintaan anak muda seperti pada sinetron-sinetron dewasa ini termasuk laris manis saat itu, terlaris ketiga pada 1976 dengan jumlah penonton 168.456 orang. Konon, menurut antropolog Karl G. Heider, Kampus Biru merupakan film Indonesia pertama dengan adegan ciuman di bibir secara penuh.

10. Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya) 1973

Novel Si Doel Anak Betawi (Aman Datoek Madjoindo)

Si Doel adalah sebuah merek dagang yang sungguh menancap di dalam benak, bahkan bertahun-tahun setelah dirilis. Sang pemeran, Rano Karno kemudian melanjutkannya dengan membuat versi televisi. Inipun masih mampu meraup sukses besar di pasaran hingga dilanjutkan dengan sekuel demi sekuel. Sukses aktor Rano Karno yang identik dengan sosok si Doel masih belum berhenti sampai di sana. Popularitas itu yang mengantarkannya pula untuk wara-wiri di singgasana politik. Bung Sjuman sebagai sutradara rupanya lebih berhasil menghidupkan karakter si Doel ketimbang sang penulis novel.

5 thoughts on “Film Adaptasi Karya Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s