ISU POLIGAMI DALAM NOVEL DAN FILM AYAT-AYAT CINTA: KAJIAN PERBANDINGAN *)

Oleh: Suseno WS

Abstrak
Adaptasi novel ke film selalu membawa perubahan, baik dari alur cerita, maupun penggarapan dan pemuatan idenya. Seperti dalam kasus Ayat-Ayat Cinta, isu poligami digarap berbeda. Dalam novel, isu poligami tidak diuraikan secara eksplisit. Penyebab terjadinya poligami dikemas sedemikian rupa sehingga benar-benar dapat menggambarkan betapa poligami memiliki persyaratan-persyaratan tertentu yang tidak gampang. Sedangkan dalam film, isu ini dilukiskan dengan lebih eksplisit. Meskipun berangkat dari satu ide yang sama, tetapi dalam film digarap dengan ruh yang berbeda. Film lebih berusaha mewadahi fenomena sosial yang tengah berkembang, berusaha menunjukkan fenomena itu secara lebih nyata, sekaligus juga difungsikan sebagai kritik sosial. Sosial masyarakat penerima, atribut pengarang, dan insan pelaku perfilman, terutama sutradara, juga menjadi faktor penting yang turut berpengaruh terhadap perbedaan-perbedaan tersebut.

Kata kunci: sastra bandingan, ekranisasi, ideologi, masyarakat penerima sastra, fenomena sosial.

A. Pendahuluan
Karya sastra merupakan produk masyarakat, merupakan rekaman kehidupan. Kehadirannya dalam masyarakat dan era tertentu tidak dapat lepas dari universe yang melingkupi.

Novel Ayat-Ayat Cinta (selanjutnya disingkat AAC) merupakan novel yang diterbitkan pertama kali pada Desember 2004. Hingga awal 2008 novel ini telah begitu populer, begitu banyak diminati oleh pembaca. Sejak diterbitkan, novel ini banyak mewarnai bagian muka etalase-etalase toko buku. Apalagi lagi setelah novel tersebut diadaptasi ke dalam film, pembeli pun semakin tinggi. Hal ini terbukti dengan hingga Februari 2008 ini saja novel ini telah cetak ulang sebanyak 31 kali.
Sementara itu, film yang diberi judul sama dengan novelnya, yaitu AAC, sejak di lounching hingga Maret 2008 telah ditonton oleh lebih dari 3 juta penonton. Ini bahkan mampu menyaingi film Eiffel I’m in Love dan Ada Apa dengan Cinta (dalam Seputar Indonesia Edisi Minggu, 23 Maret 2008).

Ada asumsi bahwa dalam kegiatan pengadaptasian selalu menghasilkan sesuatu yang berbeda. Meskipun prosentase keberbedaannya itu sangat relatif. Baik dari persoalan kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing sarana atau media ini, baik media tulis maupun media audio-visual sampai dengan persoalan ideologi yang dihadirkan dari proses resepsi tersebut.

Berangkat dari asumsi di atas, maka penulis tertarik mengkaji novel dan hasil adaptasinya. Dalam hal ini penulis akan memfokuskan kajian ini pada persoalan isu poligami yang diusungnya. Ada perbedaan pengisahan atau pengungkapan isu poligami yang sekilas tampak jelas antara novel dan film adaptasinya. Melalui metode perbandingan penulis akan mencoba mengkaji persoalan tersebut.

B. Kerangka Teori
1. Sastra Bandingan: Beberapa Konsep
Sastra bandingan merupakan satu disiplin baru dalam ilmu sastra, sehingga dalam beberapa kajian bandingan seringkali diawali dengan memberikan penjelasan seputar apakah sastra bandingan itu sebenarnya. Untuk menjawab hal ini, Remak (dalam Damono, 2005: 2) menyebutkan bahwa sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni, filsafat, sejarah, dan sains sosial, sain, agama, dan lain-lain. Pernyataan tersebut menunjukkan ada dua kecenderungan yang dapat dilakukan dalam kajian sastra bandingan, yaitu sastra dibandingan dengan sastra dan sastra dibandingan dengan disiplin ilmu lain.
Kajian sastra bandingan ini banyak dipelopori oleh para penulis Prancis pada abad ke-19 yang kemudian tergolong menjadi dua mazhab, yaitu mazhab Prancis dan Amerika. Dari kedua mazhab itu kemudian sering disebut sebagai mazhab lama dan baru (Saman 1986: 1).

Berkaitan dengan hal tersebut, Damono (2005: 10) menyebutkan bahwa mazhab Amerika umumnya beranggapan bahwa perbandingan antara karya sastra dan bidang lain harus dianggap sah. Dalam hal ini karya sastra dapat dibandingkan dengan bidang ilmu sosiologi, agama, dan lain-lain. Hal yang penting diperhatikan adalah titik beratnya, yaitu meskipun membandingkan karya sastra dengan bidang ilmu lain, tetapi yang dipumpunkan adalah karya sastranya. Sementara paham mazhab Prancis umumnya mengharuskan perbandingan antara karya sastra dengan karya sastra. Perbandingan antara karya sastra dengan disiplin ilmu lain dianggap tidak sah. Dengan melihat hal ini mazhab Amerika terlihat lebih longgar. Dalam hal ini saya lebih cenderung dengan mazhab ini.

Masih dalam Damono (2005: 10) disebutkan bahwa ada dua metode dalam studi pengaruh yang bisa dipergunakan. Pertama, peneliti menekankan masalahnya dari segi pandangan sastrawan (outhor) yang dipengaruhi. Kedua, peneliti menekankan masalahnya dari sudut pandang sastrawan yang mempengaruhi. Metode pertama mencoba mendekati karya sebagai satu wujud ideologi pengarang yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya dan atribut dirinya. Sedangkan metode kedua pengarang justru mencoba sedemikian rupa sehingga ia dapat menuangkan ideologinya melalui karya demi satu tujuan berusaha mempengaruhi lingkungan sosial. Sedangkan lingkungan sosial yang di maksud di sini sebenarnya adalah lingkungan masyarakat yang akan menjadi pembaca atau penikmat karya sastra tersebut.

Dari kedua segi itu pun sebenarnya peneliti masih bisa lari lebih dalam, ke lingkup yang lebih kecil, ke aspek yang lebih sempit, baik dalam hal tema, gaya, genre, ataupun gagasannya. Bahkan peneliti juga menciutkan penelitiannya dari segi kemiripan bahasa atau strukturnya.

Mengenai pendekatan-pendekatan yang bisa digunakan dalam penelitian sastra bandingan, Clements (dalam Damono, 2005: 7-8) menyebutkan ada lima pendekatan, yaitu: 1) tema atau mitos, 2) genre atau bentuk, 3) gerakan atau zaman. 4) hubungan-hubungan antara sastra dan bidang seni dan disiplin ilmu lain, dan 5) pelibatan sastra sebagai bahan lagi perkembangan teori yang terus-menerus bergulir. Tidak jauh dari itu, Jost menyebutkan empat bidang pendekatan: 1) pengaruh dan analogi, 2) gerakan dan kecenderungan, genre dan bentuk, dan 5) motif, tipe, dan tema.

Uraian di atas menggambarkan betapa sastra bandingan memiliki ruang lingkup penelitian yang sangat luas. Akan tetapi, dalam praktek kajiannya peneliti bisa menitik beratkan pada satu pendekatan yang ada dan menciutkannya kedalam sekup yang lebih sempit. Melalui cara ini tentunya akan dicapai satu penelitian yang mendalam.

2. Ekranisasi: Proses Perubahan
Yang dimaksud dengan ekranisasi sebenarnya adalah suatu proses pemindahan atau pengadaptasian dari novel ke film. Eneste (1991: 60) menyebutkan bahwa ekranisasi adalah suatu proses pelayar-putihan atau pemindahan / pengangkatan sebuah novel ke dalam film (ecran dalam bahasa Prancis berarti ‘layar’). Ia juga menyebutkan bahwa pemindahan dari novel ke layar putih mau tidak mau mengakibatkan timbulnya berbagai perubahan. Oleh karena itu, ekranisasi juga bisa disebut sebagai proses perubahan. Pada perkembangannya sekarang, ekranisasi bukan saja perubahan atau adaptasi dari novel ke film, tetapi sekarang banyak pula bermunculan adaptasi dari film ke novel. Berkaitan dengan ini, Damono (2005; 96) menyebutnya dengan istilah alih wahana. Dalam hal ini ia menjelaskan bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain.

Ekranisasi sebenarnya adalah suatu pengubahan wahana dari kata-kata menjadi wahana gambar. Di dalam novel, segalanya diungkapkan dengan kata-kata. Pengilustrasian dan penggambaran dilukiskan dengan gambar. Sedangkan dalam film, ilustrasi dan gambaran diwujudkan melalui gambar. Gambar di sini bukan hanya gambar mati, melainkan gambar hidup yang bisa dironton secara langsung, menghadirkan sesuatu rangkaian peristiwa yang langsung pula.

Penggambaran melalui kata-kata yang dilakukan dalam novel akan menimbulkan imajinasi-imajinasi dalam pikiran pembacanya. Apa yang terjadi di sini sebenarnya adalah proses mental. Dengan membaca, pembaca akan menangkap maksud-maksud yang ingin disampaikan pengarang. Sedangkan dalam film, penonton disuguhi satu gambar-gambar hidup, konkret, dan visual. Penonton seolah-olah sedang menyaksikan suatu kejadian yang sesungguhnya, yang nyata terjadi.
Perbedaan wahana atau dunia—dunia kata dan dunia gambar—yang dimiliki oleh dua media ini—novel dan film—tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Selain dipengaruhi oleh keterbatasan yang dimiliki oleh masing-masing media tersebut—novel dan film (seperti dijelaskan oleh Bluestone, 1957: 1) juga dipengaruhi oleh adanya proses resepsi, pembacaan, sutradara atau penulis skenario terhadap novel tersebut. Lebih dari itu, yang namanya resepsi tidak dapat lepas dari yang namanya interpretasi, dan pada itu juga akan dimasukkan juga ideologi dan tujuan-tujuan, intensi, pesan, misi, dan keinginan sutradara ataupun penulis skenario. Kompleksitas ini tentu saja akan sangat dipengaruhi oleh jiwa zaman, fenomena sosial yang berkembang, dan sosial masyarakat penerimanya. Hal-hal tersebut tidak dapat lepas dari: universe, author, dan reader. Dalam kondisi demikian sangat mungkin terjadi munculnya perbedaan ideologi antara wahana novel dan film.

C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu dengan cara mendeskripsi fakta-fakta teks dan hasil analisis terhadap fakta teks tersebut. Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan (Ratna 2004: 53). Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data. Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan analisis.

Selain itu, ada dua pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama adalah pendekatan umum. Pendekatan ini adalah pendekatan yang memandang sastra sebagai hasil dokumentasi sosial. Sebagai dokumen sosial, sastra dipakai untuk mencatat sosiobudaya suatu masyarakat pada suatu masa tertentu. Kedua adalah pendekatan sosiologis. Hal ini disebabkan oleh penelitian ini yang bersifat sosiologis, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan ini berusaha mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan dalam sastra. Dalam hal ini, sastra dipandang mempunyai hubungan timbal balik yang erat dengan faktor-faktor sosial dan kultural dalam masyarakat. Sehingga pemahaman terhadap sastra tidak dapat dilepaskan dari aspek sosial dan kebudayaan masyarakat yang melahirkannya (Grebstein dalam Damono 1979: 4).

D. Isu Poligami dalam Novel dan Film AAC
Poligami yang dihadirkan dalam novel maupun film AAC sebagai adaptasinya, sebagai satu wacana, memiliki perbedaan yang kental dan mendasar. Perbedaan ini meliputi dasar kebutuhan dilakukannya poligami, bagaimana wacana ini dilukiskan dalam kedua karya tersebut. Bagimana itu semua, secara lebih detail akan diuraiakan berikut ini.

1. Poligami dalam Novel AAC
Sakit Maria merupakan segmen cerita yang penting, yang membangun segmen cerita berikutnya, yaitu hadirnya isu poligami dalam cerita. Cerita terjadinya poligami dalam versi novel sebenarnya lebih dipengaruhi oleh faktor desakan orang tua Maria, Tuan Boutros (ayahnya) dan Madame Nahed (ibunya), dengan tujuan untuk meyelamakan jiwa Maria.
Cerita berawal dari Maria yang sakit parah. Ia tak sadarkan diri selama beberapa hari. Di kemudian hari, dari diary-nya, keluarga Maria tahu bahwa Maria begitu jatuh hati kepada Fahri. Maria mengalami pukulan batin yang keras begitu mengetahui Fahri sudah menikah dengan Aisha. Besar dugaan sakitnya Maria disebabkan oleh stress yang berat karena memikirkan Fahri. Ditambah lagi, dalam sakitnya setiap kali Maria sempat sadar ia selalu menyebut nama Fahri. Hal ini semakin menguatkan dugaan tersebut. Kutipan berikut memperjelas uraian di atas.

“Sakitnya sangat parah. Empat hari ini dia koma. Hanya kadang-kadang dia seperti sadar, mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu. Dan apakah kau tahu apa yang dia katakan, Anakku?” Suara Madame Nadia terbata-bata.
“Apa Madame?”
“Dia menyebut-nyebut namamu. Hanya namamu, Anakku. Dia ternyata sangat mencintaimu!” (El Shirazy 2008: 341)

…Ketika tahu kau telah menikah dengan Aisha yang baru beberapa bulan kenal denganmu dia sangat terpukul. Dia sangat menyesal. Padahal dirinya telah mengenalmu jauh lebih lama dan lebih dalam dari Aisha. Itu ia tulis setelah pulang dari Hurgada dan tahu kabar pernikahanmu. Aku baru tahu kenapa dia selalu murung dan tidak bersemangat hidup. Maria menulis dibaris terakhir, when some one is in love he cannot think of anything else. Bila seseorang dimabuk asmara, dia tak bisa memikirkan hal yang lain. Dia tidak bisa lepas untuk memikirkan dirimu, memikirkan cintanya, sampai akhirnya jatuh sakit.” (El Shirazy 2008: 342)

Keadaan Maria yang semakin parah membuat orang tua Maria semakin cemas. Lalu bagaimana benih poligami muncul kemudian? Pernyataan dokter bahwa Maria membutuhkan rangasangan dari orang yang dicintainya agar dapat menyadarkannya dari koma adalah jawabannya. Upaya yang telah ditempuh dengan rekaman suara Fahri tidak berhasil. Maka, dokter ahli syaraf yang menangani Maria yang menyarankan agar dapat menghadirkan Fahri. Dengan sentuhan tangan dari orang yang dicintai besar kemungkinannya Maria akan bisa sadar kembali. Berikut kutipannya.
“Kaset rekaman suaramu bisa menyadarkan Maria beberapa menit. Begitu sadar ia menanyakan dirimu. Ia terus menanyakan dirimu sampai tak sadarkan diri lagi. Dokter ahli syaraf yang menanganinya meminta agar bisa mendatangkan dirimu beberapa saat untuk menyadarkan Maria. Dengan suara dan sentuhan tanganmu kemungkinan Maria bisa sadar. (El Shirazy 2008: 365)

… Dokter setengah baya mengajakku bicara. Dia minta agar aku mengucapkan kata-kata yang mesra, kata-kata pernyataan cinta pada Maria sambil memegang-megang tangannya atau menyentuh keningnya. (El Shirazy 2008: 367)

Sampai di sini cerita dibenturkan dengan satu persoalan yaitu Fahri tidak mau bersentuhan dengan wanita yang bukan mukhirmnya atau istrinya. Ia adalah pemeluk teguh Islam. Islam tidak membolehkan seorang laki-laki bersentuhan dengan perempuan kecuali ia adalah istrinya atau mukhrimnya. Atas alasan ini Fahri tidak dapat memenuhi permintaan Tuan Boutros (ayah Maria), Madame (Ibu Maria), dan Dokter ahli syarat yang merawat Maria.

Berbagai segmen cerita yang dikemas sedemikian rupa terus menuju satu titik yaitu poligami. Meskipun penggarapan cerita ‘per-poligami-annya’ tidak secara eksplisit diungkapkan. Penulis novel ingin menunjukkan bahwa poligami hanya dapat dilakukan dalam kondisi-kondisi tertentu, syarat-syarat tertentu. Fahri sendiri selalu menunjukkan sikap tidak setuju, tidak bisa memadu istri yang sangat dicintainya, Aisha, meskipun keadaan memaksanya.

Upaya untuk menunjukan hal tersebut dikemas melalui tarik-menarik pendapat antara Fahri dengan Aisha istrinya setelah diminta oleh orang tua Maria dan dokter syaraf yang menangani Maria. Cerita di dalam novel ini, pihak yang mendesak meminta agar Fahri mau menikahi Maria adalah dari pihak luar Fahri dan istrinya. Artinya dari kepentingan eksternal Fahri. Dorongan untuk berpoligami muncul dari luar dirinya. Akan tetapi, janji Fahri pada dirinya sebelum pernikahannya dengan Aisha bahwa ia tidak akan memadu istrinya adalah hal berikutnya yang menguatkan pendirian Fahri. Perhatikan kutipan berikut.

… Bisa jadi jika aku berterus terang, dia bisa menerima usulan Nurul, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memadu istriku. Aisha adalah perempuanku yang pertama dan terakhir. (El Shirazy 2008: 289)

Selain itu, Fahri juga memiliki prinsip yang kuat bahwa ia tidak mungkin menikahi seorang wanita yang tidak seiman dengannya, seorang muslimah. Maria adalah seorang pemeluk Kristen Koptik. Hal inilah yang menambah keberatan Fahri untuk mau menikahi Maria, meskipun permintaan untuk tujuan menyelamatkan nyawa seseorang. Perhatikan dua kutipan berikut.

“Aku tidak bisa berspekulasi istriku. Aku tidak bisa melakukannya. Dalam intreaksi sosial kita bisa toleransi pada siapa saja, berbuat baik kepada siapa saja, tapi untuk masalah keyakinan aku tidak bisa main-main. Aku tidak bisa menikah kecuali dengan perempuan yang bersaksi dan meyakini tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kalau untuk bertetangga, berteman, bermasyarakat aku bisa dengan siapa saja. Untuk berkeluarga tidak bisa Aisha. Tidak bisa!” (El Shirazy 2008: 377)

Dari kutipan di atas kita bisa melihat betapa kuatnya prinsip Fahri untuk tidak menikah lagi, untuk mempertahankan keluarganya, mempertahankan janjinya pada dirinya sebelum menikah dengan Aisha. Akan tetapi, pada akhirnya sekian prinsip kuat yang dimiliki oleh Fahri pun akhirnya luluh, luntur. Berikut gambaran bagaimana Aisha mendorong Fahri dan Fahri pun akhirnya luluh dan meluluskan permohonan untuk menikahi Maria.

“Suamiku aku sependapat denganmu. Sekarang menikahlah dengannya. Anggaplah ini ijtihad dakwah dalam posisi yang sangat sulit ini. Nanti kita akan berusaha bersama untuk membawa Maria ke pintu hidayah. Jika tidak bisa, semoga Allah masih memberikan satu pahala atas usaha kita. Tapi aku sangat yakin dia telah menjadi seorang muslimah. …. Kumohon menikahlah dan selamatkan Maria. Bukankah dalam Al-Qur’an disebutkan, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” ….

“Ini jadikan mahar untuk Maria. Waktunya sangat mendesak. Sebelum maghrib kau harus sampai di penjara. Jadi kau harus segera menikah dan melakukan semua petunjuk dokter untuk menyadarkan Maria.” …. Dengan sedikit ragu aku mengambil cincin itu. Aku tak bisa menahan isak tangisku. Aisha memelukku, kami bertangisan.

“Suamiku kau jangan ragu! Kau sama sekali tidak melakukan dosa. Yakinlah bahwa kau akan melakukan amal shaleh,” bisik Aisha.

Setelah itu aku menemui Madame Nahed dan Tuan Boutros. Mereka berdua menyambut kesediaanku dengan bahagia. Proses akad nikah dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat, sederhana, sesuai dengan permintaanku. …. (El Shirazy 2008: 377-378)

4. Poligami dalam Film AAC
Isu poligami dalam film AAC digambarkan dengan lebih eksplisit dibandingkan dalam novel. Pokok persoalan terjadinya poligami sendiri sebenarnya sama, yaitu sakitnya Maria yang membutuhkan hadirnya Fahri, orang yang dicintainya, untuk dapat memberikan rangsangan langsung kepada Maria, yang diharapkan dapat membangkitkan kerja syaraf tubuhnya sehingga lebih cepat sadar dan koma atau sakitnya.

Ada perbedaan mendasar penyebab sakitnya Maria antara novel dengan film. Di dalam film, sakitnya Maria diawali dari kecelakaan yang menimpa Maria. Ia tertabrak mobil. Di kemudian hari diketahui bahwa kecelakaan tersebut adalah kecelakaan yang disengaja. Perhatikan rangkaian gambar berikut.

Gambar 1. Peristiwa penabrakan Maria oleh orang suruhan Bahadur.

Rangkaian gambar di atas menggambarkan kecelakaan yang di alami oleh Maria. Dalam keadaan yang kalut dan putus asa Maria keluar rumah dan berjalan gontai di sebuah jalan yang sepi. Setting waktunya adalah malam hari. Di belakang sana sebuah mobil diparkir di pinggir jalan yang kemudian berjalan kencang dan menabrak Maria. Peristiwa inilah yang mengawali sakitnya Maria.

Gambar berikut menunjukkan bagaimana Maria akhirnya ditolong oleh seorang laki-laki dan dilarikan ke rumah sakit. Dalam pada itu, lelaki yang menolong Maria menunjukkan kecurigaannya kalau kecelakaan ini bukan murni kecelakaan biasa. Hal ini ditunjukkan oleh dialog dantara dia dengan Ibu Maria. Perhatikan rangkaian gambar dan dialog berikut.

Gambar 2. Maria dilarikan ke rumah sakit

Dialog yang ada dalam since adegan film AAC.
Madame Nehad : “Terima kasih sudah selamatkan Maria.”
Lelaki : “Saya yakin sekali ini bukan kecelakaan. Ini disengaja…”

Adanya anggapan bahwa kecelakaan Maria bukan murni kecelakaan, melainkan suatu kesengajaan akan terjawab dalam sence berikutnya. Dalam adegan persidangan, pembela Fahri menghadirkan Maria sebagai saksi yang akan memberikan kesaksian atas tuduhan pemerkosaan terhadap Fahri. Kala itulah Bahadur terkejut karena menurut pengakuan anak buahnya, Maria telah mati ditabraknya. Berikut rangkaian gambar dan dialognya.

Gambar 3. Pembela menghadirkan Maria sebagai saksi

Bahadur : “Katanya dia sudah mati kalian tabrak.”
Anak buah : “Iya…”
Bahadur : “Kan sudah saya suruh bunuh sampai mati.”

Hal lain yang perlu dicermati dari penggarapan segmen-segmen cerita seputar isu poligami Fahri, adalah kebutuhan Fahri akan Maria. Dalam film, Fahri adalah pihak yang benar-benar membutuhkan hadirnya Maria sebagai saksi kunci dalam persidangan. Akan tetapi, kemudian diketahui bahwa Maria sakit keras bahkan tidak bisa bangun. Berikut dialog yang terjadi antara Fahri, Aisha, Paman Eqbal, Pengacara, dan Saeful, usai penolakan usulan pembela untuk menunda jalannya persidangan demi menunggu sampai bayi Noura lahir segingga dapat dilaksanakan tes DNA.

Aisha : “Kita harus melepaskan Fahri.”
….
Paman Eqbal : “Bagaimana kalau hakimnya kita suap?”
Aisha : “Berapapun akan saya bayar asalkan….”
Fahri : “Jangan! Kita tidak selamanya hidup di dunia. Jangan kau lakukan itu aisha. Demi Allah aku tidak rela. Kenapa keluarga Boutros tidak dijadikan saksi?”
….
Saiful : “Maria kecelakaan Ri. Sejak itu flat mereka kosong.”
Fahri : “Kita harus menemukan maria. Dia saksi kunciku. Sebenarnya ada satu lagi bukti. Tapi aku tidak yakin apa ini bukti yang kuat. Ada surat cinta dari Noura yang aku titipkan ke Syeh Utsman.”
Dialog di atas menunjukkan betapa Fahri membutuhkan Maria untuk bisa memberikan kesaksian di persidangan. Maria adalah saksi kunci. Dengan pemberian kesaksian oleh Maria maka segala dakwaan pemerkosaan yang ditimpakan kepadanya akan gugur, dan ia akan segera bebas. Berikut rangkaian gambar terjadinya dialog di atas.

Gambar 4. Perbincangan di Penjara usai penolakan usulan penundaan sidang. Penting-nya bisa menemukan Maria sebagai saksi kunci Fahri.

Satu hal lagi yang penting dalam isu ini adalah anjuran atau permintaan untuk menikahi Maria yang datang dari Aisha. Dengan menikahi Maria, maka besar kemungkinan Maria bisa diselamatkan, bisa segera disembuhkan. Jika Maria sembuh, maka ia dapat memberikan kesaksian dalam persidangan Fahri dan besar kemungkinan Fahri akan terbebas dari segala tuduhan karena Maria adalah saksi kunci. Dengan demikian pula bayi yang dikandung Aisha jika kelak lahir akan tetap memiliki seorang ayah. Dalam konteks ini, tidak ada permintaan kepada Fahri untuk menikahi Maria yang datang dari Ibu Maria, Madame Nehad.

Seperti dalam novel, dalam film ini ketika Fahri telah didatangkan ke rumah sakit tempat Maria dirawat, ia pun menolak untuk dapat memberikan rangsangan langsung kepada Maria dengan menyentuh Maria. Alasan bukan mukhrim masih menjadi alasan utamanya. Selanjutnya justru lebih banyak Aisha yang mendesak Fahri. Berikut kutipan dialog antara Aisha dengan Fahri, sesaat setelah Fahri mencoba berbicara pada Maria namun hasilnya sangat jauh dari harapan.

Aisha : “Katakan, kamu akan menikahinya…”
…..
Fahri : “Aisha, poligami tidak semudah itu. Ada banyak hal yang harus dipertanggungjawabkan. Kamulah yang kupulih dengan nama Allah. Satu-satunya yang kupilih. Kamulah jodohku, Aisha.”
Aisha : Jodoh itu rahasia Allah, Fahri. Ada diri muslimah dalam Maria. Dia butuh kamu. Bayi dalam kandungaku, butuh ayahnya. Nikahi Maria!“

Berikut cuplikan gambar dalam adegan filmnya.

Gambar 5. Aisha meminta Fahri menikahi Maria

Dialog di atas menunjukkan betapa pihak Fahri dan Aisha adalah pihak yang sangat membutuhkan sembuhnya Maria agar dapat meyelamatkan Fahri dan janin yang sedang dikandung oleh Aisha. Permohonan yang sangat diberikan kepada Fahri oleh Aisah istrinya hingga dengan tetesan air mata. Aisha juga memberikan cincin perkawinannya dengan Fahri sebagai maskawinnya. Akhirnya Fahri pun dengan terpaksa mau menerima dan menikahi Maria.

5. Ideologi dan Masyarakat Penerimanya
Adanya perbedaan penggarapan isu poligami dalam novel dan film sebagai hasil resepsi sutradara tentu bukan berjalan begitu saja. Dengan melihat perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh kedua wahana tersebut kita bisa menangkap adanya persoalan sebagai apa karya tersebut dalam hubungannya dengan masyarakat penerimanya dan pengarang sebagai outhor. Isu poligami tidak secara eksplisit diungkapkan dalam novel, meskipun tidak dapat pula dikatakan kalau novel tidak mengusung persoalan ini.

Ada kesan ketaksanggupan atau ketaksampaian untuk mengungkap isu poligami yang tidak mampu diungkapkan dengan lebih gamblang dan eksplisit di dalam novel. Kesengajaan untuk menyamarkannya tentu saja bisa terjadi. Tapi hal yang kiranya tidak dapat dilepaskan dari persoalan ini adalah siapa penulisnya, bagaimana latar belakang dan atributnya, siapa penerimanya, siapa pembacanya. Ada kesan kehati-hatian yang sangat dijaga dalam penggarapan isu ini di dalam novel. Hal ini tidak tentu tidak lepas dari atribut pengarang, atribut kesantriannya. Karya ini telah hadir sebagai wujud bagaimana pengarang dipengaruhi oleh masyarakat sekelilingnya, atribut kesantriannya. Ini pula mengapa isu poligami tidak dihadirkan secara lebih eksplisit. Ini selaras dengan budaya santri yang halus, tidak boleh berbicara bebas, dan yang senada dengan itu.

Lalu apa yang ingin dibicarakan dalam novel ini? Novel ini ingin menunjukkan kepada pembaca betapa poligami itu sebaiknya dihindari. Akan tetapi jika demikian yang dimaksud, tentu saja ini tidak sinkron dengan fakta teks dari novel AAC tersebut. Bagaimanapun mau dibantah, pada ahirnya Fahri menikahi Maria juga. Meskipun akhirnya kemudia tokoh Maria dimatikan setelah memberikan kesaksian. Ini berarti bahwa Fahri tidak sempat menjalani kehidupan dalam ke-poligami-an. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa Fahri tidak berpoligami. Fahri bagaimanapun telah berpoligami.
Berbeda dengan film, Hanung Bramantyo mengusung atributnya sebagai seseorang yang bekerja dalam dunia entertain, dengan kehidupan yang “gelamor”, yang mewah, dan seterusnya. Komunitas dan kebebasan mengungkapkan dan menuangkan ideologinya. Jika demikian maka tentu sangat berbeda dengan novelnya.

Dalam kondisi inilah sebenarnya keterputusan pesan. Kalau dikatakan tidak, sebenarnya iya, mau dikatakan iya, juga seolah tidak. Akan tetapi memang implisitas penghadiran isu poligami dalam teks seolah berhasil membungkusnya.
Hal ini tentu sja sangat berbeda dengan film sebagai hasil adaptasinya. Novel mengusung isu poligami yang terputus kemudian direspon dengan lebih eksplisit dan realis. Bagaimana tidak, kesadaran kebutuhan adanya poligami secara nyata dimunculkan. Poligami diwacanakan sebagai salah satu upaya atau cara yang mampu membantu menyelesaikan suatu persoalan. Poligami itu boleh dilakukan. Akan tetapi untuk melakukannya harus ada syarat-syarat tertentu yang tidak gampang dan sederhana.

Bagaimana eksplisit-nya pengungkapan wacana poligami dalam film juga dapat dilihat dari adegan Ustadz Jalan dan Ustadzah Maemunah (paman dan bibi Nurul) dan datang ke apartemen Fahri hampir sebulan setelah Fahri dan Aisha menikah. Kedatangan mereka berdua dengan sangat nyata meminta kepada Fahri agar bisa menikahi Nurul. Di sini permintaan pada Fahri untuk berpoligami dinyatakan dengan sangat eksplisit. Simaklah kutipan dialog berikut.

Ustadz Jalal : “Maafkan kami Fahri, kalau kami harus datang kesini. Nurul kehilangan cahaya hidupnya.”
Fahri : “Apa yang ustad dan ustadzah ingin saya lakukan?”
Ustadzah : “Nikahi nurul!”
Ustadz Jalal : “Tolong Fahri. Aku yakin kamu bisa berlaku adil.”
Fahri : “Maaf saya tidak mau. Bahkan saya tidak pernah berpikiran untuk melakukan itu.”

Berikut cuplikan gambar terjadinya dialog di atas.

Gambar 6. Perbincangan antara Ustadz Jalal dan istrinya dan Fahri, meminta Fahri menikahi Nurul.

Selain itu hal yang coba diwacanakan kepada masyarakat penerima adalah bahwa kompleksitas persoalan yang bakal muncul dalam sebuah keluarga poligami. Hal ini dilakukan oleh Hanung Bramantyo sebagai sutradara dengan menghidupkan tokoh Maria lebih panjang dibandingkan yang ada dalam novel. Dengan cara ini sutradara ingin menunjukkan kepada masyarakat gambaran kehidupan sebuah keluarga poligami, tinggal satu rumah dengan dua istri, den dengan segala persoalannya. Hal ini digambarkan dengan tangis Aisha sebagai istri pertama yang mengisaratkan kepedihan. Berikut cuplikan gambar bagaimana Aisha menangis, penggambaran kepedihannya, sesaat setelah pernikahan berlangsung dengan proses yang cepat dan Maria akhirnya bangun dari komanya.

Gambar 7. Upacara pernikahan dan pasca pernikahan
Namun apa yang terjadi di balik itu. Aisha yang terpukul. Melihat adegan Fahri dan Maria, ketika Fahri menyatakan cintanya pada Maria ia pun lari keluar ruangan, menangis, tidak kuasa dengan itu semua. Perhatikan rangkaian gambar berikut.

Gambar 8. Gambaran kesedihan Aisha

Tidak hanya itu, lika-liku kesedihan Aisha dan keluarga poligaminya juga dialami setelah Maria tinggal bersama satu rumah dengan mereka. Di situ semakin tmbul kecemburuan Aisha pada suaminya dan Maria. Sampai suatu hari Aisha pergi ke rumah Pamannya karena merasa tidak kuat dengan keadaannya di rumah.

Respon dari Sutradara yang dituangkan melalui film hasil garapannya itu sebenarnya juga erat kaitannya dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, yaitu fenomena poligami yang dilakukan oleh beberapa tokoh masyarakat. Sehingga film ini selain sebagai satu bentuk mimesis masyarakat, juga sebenarnya kritik terhadap masyarakat itu sendiri, selain misi pemberian pengetahuan juga tidak terlewatkan. Menghidupkan tokoh Maria dalam versi film adalah satu cara untuk menyamapaikan pesan-pesan Sutradara.

C. Penutup
Novel Ayat-Ayat Cinta yang diadaptasi ke dalam bentuk film telah melahirkan dua ruh yang berbeda: ruh novel dan ruh film.

Persoalan sosial masyarakat penerimanya menjadi faktor penting dalam penyusunan baik novel maupun adaptasinya. Film sebagai adaptasi lebih mencoba mewadahi dan menyuguhkan fenomena sosial masyarakat yang direkamnya. Ini sekaligus sebagai kritik sosial pada fenomena-fenomena yang sedang terjadi, yang kemudian ditarik ke ranah sastra, dalam hal ini film.

Teks tidak dapat lepas dari atribut pengarangnya. Novel AAC itu sangat dipengaruhi oleh atribut pesantren dari pengarangnya, sedangkan film dipengaruhi oleh atribut sutradara dengan glamor live dan komunitas entertainernya. Kondisi ini pulalah yang kemudian menghasilkan karya—novel—sebagai hasil yang ‘dipengaruhi’ dan film sebagai hasil yang bersifat ‘untuk mempengaruhi’.

———————-
Daftar Rujukan

Abrams, M.H. 1977. The Mirror and The Lamp. New York: Oxford University Press.
Belsey, Catherine. Critical Practice. London and New York: Routledge.
Bluestone, George. Novels into Film. Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press.
Bramantyo, Sutradara. 2008. Film Ayat-Ayat Cinta. Jakarta: Produksi MD Production.
Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah.
Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor.
Harian Seputar Indonesia, Jawa Tengah dan DIY. Edisi Minggu, 23 Maret 2008. Hal. 1.
Pranowo, M. Bambang. 2008. Ayat Cinta dan Budaya Jawa. Dalam Harian Seputar Indonesia Edisi Minggu, 23 Maret 2008. Hal 15.
Pratiwi, Wira Apri. Menjamurnya Novel Adaptasi. http://www.pikiranrakyat.com, diunduh pada 29 April 2008, pukul 16:52 wib.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saman, Muh. Sahlan. 1986. Sastra Bandingan: Konsep, Teori, dan Amalan. Petaling Jaya: Fajar Bakti.
Seru, Hasan. 2007. Film Ayat-Ayat Cinta. http://hasanjunaidi.wordpress.com, diunduh pada 12 Maret 2008, pukul 20:32 wib.
Shirazy, Habiburrahman El. 2008. Ayat-Ayat Cinta. Jakarta: Republika.
Venayaksa, Firman. 2006. Adaptasi Film Biola Tak Berdawai ke dalam Novel: Kajian Perbandingan. Universitas Indonesia: Tesis.
———–2005.Bedah Novel Brownies: Pertarungan antara Ideologi dan Psikologi. http://venayaksa.multiply.com/journal, diunduh pada 30 Januari 2008, pukul 16:20 wib.
http://www.waspada.co.id, diunduh pada 29 April 2008, pukul 16:45 wib.
http://www.fiu.edu/~weitzb/ENG4132-finpaper.htm, diunduh pada 28 April2008, pukul 17.23 wib.
Wolff, Janet. 1981 The Social Product of Art. New York: St. Martin’s Press, Inc.

    *) Tulisan ini dimuat dalam Jurnal Sastra ALAYASASTRA Balai Bahasa Semarang Edisi No./Vol.: vol.4 Halaman: 1-159 Tahun: 2008, ISSN: 1858-490

One thought on “ISU POLIGAMI DALAM NOVEL DAN FILM AYAT-AYAT CINTA: KAJIAN PERBANDINGAN *)

  1. asw,,,pak saya mahasiswa kepend basindo UNP padang….mahasiswanya pak Zulfadli….kt beliau bapak temannya….saya mau buat skripsi tentang ekranisasi novel ayat-ayat cinta ke dalam film ayat ayat cinta tapi saya tidak menemukan buku pamusuk eneste yang judulnya novel dan film di padang,,,,ngomong-ngomong bpk dapat bukunya dimana ya pak?mhn di balaz ya pak..trimz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s