Tuhan, aku merindunya

Jika bumi adalah persinggahan
Aku ingin merasa dalam kedamaian
menikmati hidangan singkong bakar
dan minuman manis yang menyegarkan
bercengkerama tentang isu-isu sosial,
cinta dan perselingkuhan, perceraian dan perujukan,
politik dagang sapi, bunga bank yang melemah dan meninggi, kekerasan dan korupsi,
sesaknya kehidupan kota, konflik antarnegara,
sastra dan wacana,
serta perkembangan teknologi dan kebutuhan yang tak lagi terjangkau.

Jika langit adalah kanvas
Aku ingin melukis keindahan
berdasar biru dan berbalut mega-mega
sesekali dihias warna merah dan jingga kala pagi dan senja tiba,
dan jika malam datang aku ingin menghiasnya dengan rembulan
melukisnya tepat di atas ubun-ubun kepala
hingga terang seluruh jagat raya yang kulukiskan
hingga ku lihat bocah-bocah kecil berlarian
selepas pulang dari mengaji.
Tapi jika samudra ini Kau tunjukkan
Aku ingin melabuhnya
mendayung sekuat tenaga
menerjang ombak dan badai, hingga sampailah di sebuah daratan
di situ akan aku bangun tempat tinggal
dengan segala yang alam berikan:
tiang batang pepohonan, dinding kulit pepohonan, atap daun pepohonan,
dan aku akan makan dari segala jenis persediaan.
Aku bangun segala kebutuhan kehidupan
Aku nikmati segala nikmat dan pahit
Lalu aku akan berdoa kepadaMu:
tentang kedaiman, kebahagiaan, dan kehidupan abadi dalam harmoni waktu siang dan malam.

Tuhan, aku merindunya
dalam tiap detik perputaran waktu jam dinding kota ini
menembus mega-mega,
menyusup ke dalam bus-bus antarkota hingga kemana jua,
menderu dan mendesir dalam gerbong-gerbong kereta,
mengalir dalam butiran air hujan hingga jauh ke sungai-sungai dan muara,
terbang dalam tiupan angin dari perbatasan hingga ke perbatasan kota,
menyebar dalam kabel-kabel jaringan telpon dan internet
dan memancar dari satelit ke seluruh peradaban.

Tuhan, aku merindunya
mengalir dalam doa dan dzikir
melantun dalam bait-bait puisi dan pantun
menjelma menjadi kata dalam syair-syair nada
seperti bayang-bayang tubuh kala siang di titik kaki bagian belakang
aku merindunya seperti doa,
seperti pohon pada buahnya,
seperti rumah pada perabot dan jendela,
seperti lagu pada nada-nada,
seperti jiwa pada rasa,
seperti mendung pada hujan,
seperti sungai pada lautan,
seperti malam pada rembulan,
seperti kehidupan pada kebahagiaan,
seperti kebijakan pada keadilan,
seperti ilmu pada pada buku,
seperti langit pada biru,
seperti hari pada matahari,
seperti peradaban pada teknologi,
seperti puisi pada alegori,
seperti udara yang tak satupun makhluk melalaikannya.

Tuhan, aku merindunya
pada siang dan malam putaran waktu lalu dan akan datang,
menjadi jalan yang Kau tunjukan.

Solo, 30 Mei 2009
Suseno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s