Menyoal Fatwa MUI: “Merokok Itu Haram”

Oleh: Suseno

Kontroversi pasca munculnya fatwa “Merokok Itu Haram” yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus mengemuka. Bagaimana tidak, tentu banyak pihak yang setuju dan tidak setuju. Setuju ataupun tidak tentu juga memliki alasan masing masing, baik alasan kepentingan maupun yang lain. Meskipun ini terlihat biasa, tetapi perlu menjadi catatan dan perhatian, bukan saja oleh masyarakat itu sendiri, melainkan juga pihak MUI maupun pemerintah pada umumnya.

  • Menyoal munculnya fatwa “Merokok Itu Haram” oleh MUI, ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan.
  • Pertama, fatwa dibuat atas dasar pada pertimbangan antara manfaat dan mudlarat. Akan tetapi satu hal yang perlu pula untuk diperhatikan adalah manfaat dan mudlarat pasca dimunculkannya fatwa tersebut.
  • Kontroversi pertama berdatangan dari mereka yang merokok atau perokok. Jelas saja karena kebebasan mereka selama ini kini telah dibatasi, bahkan dilarang, dengan munculnya fatwa. Bukan saja itu, tetapi yang lebih perlu menjadi pertimbangan dan perhatian lagi, baik pihak MUI maupun pemerintah, adalah persoalan kemanusiaan, persoalan keberlangsungan hidup. Bayangkan, berapa ribu orang harus terancam kehilangan pekerjaan ketika pabrik rokok tempat mereka bekerja harus tutup karena tidak bisa lagi beroperasi. Berapa banyak petani tembako harus kehilangan pekerjaan dan segera berbalik arah untuk mencari lapangan pekerjaan baru. Dibalik itu semua tentu saja masih berjubal sejumlah masalah kemanusiaan. Baik soal kerugian, maupun hilangnya pekerjaan dan penghidupan. Lalu jika demikian, apakah sebenarnya pemerintah telah siap menampung ‘pekerja rokok’ dengan lapangan pekerjaan baru dengan aman dan terjamin? Jika fatwa pelarangan (pengharaman) yang berdampak pada sejumlah persoalan yang demikian pelik dimunculkan tanpa diiringi dengan pertimbangan dan persiapan sejumlah solusi nyata, maka yang terjadi adalah kekonyolan. Upaya penyelamatan, tetapi berbuntut pada ketidakselamatan. Tujuan praktis, mengalahkan sisi yang lebih teoretis. Jika demikian, apakan ini upaya mengatasi masalah tanpa masalah (meminjam slogan salah satu badan usaha Indonesia) atau justru sebaliknya. Jadi, apakah munculnya fatwa, yang didasarkan pada pertimbangan manfaat dan mudlarat, tersebut lebih mendatangkan bermanfaat atau bermudlarat?

  • Kedua, mengenai istilah ‘haram’ itu sendiri, barang kali juga menjadi satu hal yang perlu dicermati kembali (dalam konteks ini tentu saya tidak memiliki banyak kompetensi sehingga tidak akan jauh menyinggungnya). Secara arti kamus, haram antara lain berarti terlarang (oleh agama), suci, terlarang oleh undang-undang. Hal ingin saya pertanyakan dalam hal ini adalah hakikat makna kata tersebut, siapa yang berhak menyatakannya, lalu haram yang bagaimana yang dimaksud dalam konteks ini?
  • Fatwa ‘haram’ ini memang dimunculkan MUI berdasarkan ijma, hal ini karena memang dalam Al Quran maupun Hadits tidak disebutkan ‘haram’ bagi merokok atau rokok. Meskipun demikian, beberapa ulama memang menyatakan haram bagi merokok. Dalam sidang pleno rapat ijma MUI menyepakati mengeluarkan fatwa, merokok hukumnya dilarang antara makruh dan haram, hhususnya diharamkan bagi anak-anak, wanita hamil, ulama MUI dan di tempat-tempat umum. Kemudian jika mengacu pada desakan Komnas Perlindungan Anak yang mendesak MUI untuk segera mengeluarkan fatwa haram pada merokok dengan dasar pertimbangan sebagai bentuk perlindungan pada anak dari berbagai penyakit yang dapat ditimbulkan dari asap rokok, itu hal yang bisa diterima oleh akal. Akan tetapi, jika kemudian solusinya demikian, sudah tepatkah? Tentu dengan melihat berbagai aspek di sekeliling kita dan faktor yang ditimbulkan.

    Jika merokok haram, maka yang merokok akan berdosa. Lalu ‘penyedia’ rokok telah melakukan pekerjaan menyediakan barang yang membawa dosa, maka pekerjaan mereka juga berdosa…? Lalu bagaimana?

  • Selanjutnya menyoal pada negara-negara lain yang juga telah lebih dulu membuat fatwa haram untuk merokok, seperti Singapura, itu iya, tetapi ini bukan hanya latah kan?
  • Yah, memang setiap usaha baik itu baik, tetapi belum tentu menjadi baik pula jika dikerjakan dengan kurang baik.
  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s