Elegi kehidupan

Pagi,
adalah waktu yang kutunggu
—dan tentu juga mereka.
Tapi akankah ia datang seperti yang kita bayangkan
dengan mentari yang cerah berseri
dengan langit abu-abu-biru
dengan angin lembut semilir
dengan tetes embun di pucuk daun
dengan riah tawa bocah seusai bangun tidur
dengan sarapan pagi selembar roti keju dan segelas susu?
atukah mendung bergelayut
seperti malaikat maut dengan angkara murka
siap menelan rembulan
hingga tak akan lagi datang kedamaian malam

  • jika demikian maka sore berlalu tanpa kata
    senja muram
    dan tak pernah ada jingga
    dengan siluet memendar jauh ke separuh langit angkasa
    dan burung sore yang melintas berpulang kandang
    dengan benang bocah-bocah yang bermain layang-layang
    seperti senja sore lalu
  • maka malam hadir tanpa kesahajaan dan kehangatan
    setelah siang berlalu tanpa keceriaan
    tak ada lagi bocah bermain gobag sodor dan petak umpet
    tak ada lagi pasangan bercumbu mesra
    tak ada lagi dongeng malam sebelum mata terpejam
    angin berlalu dengan hambar menyesakkan

  • tak ada lagi yang sempat rindukan
    datangnya pagi
    pada esok pagi
    lenguh
    luluh
    1. Yogyakarta, 16 Pebruari 2008
  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s