Model Pendekatan Adaptasi Novel-Film versi Louis Giannetti

Oleh: Suseno WS

Adaptasi bukanlah hal asing dalam dunia penciptaan karya, termasuk dalam pembuatan film. Film banyak yang diadaptasi dari karya sastra, seperti novel maupun cerpen.

Dalam beberapa forum dan ruang diskusi, serta beberapa media yang ada seringkali kita menemukan atau dihadapkan dengan wacana ketidakpuasan atau kekecewaan beberapa pihak dengan film hasil adaptasi karya sastra. Kekecewaan ini didasarkan atas perbandingan kualitas ‘bagus’ dan ‘tidak bagus’ antara kedua karya tersebut. Dikotomi yang demikian sebenarnya tidaklah benar, mengingat hasil adaptasi, bagaimanapun, adalah telah menjadi karya tersendiri yang lepas dari karya sumber adaptasinya. Dalam kondisi ini, masalah adaptasi menempati posisi rendah karena hasilnya dianggap sebagai jiplakan. Seiring perkembangna pemikiran manusia, pendapat yang demikian pun telah mendapat banyak kritikan dan pengkajian ulang.

Menyoal perihal adaptasi karya sastra ke film (ekranisasi) Louis Giannetti memberikan tiga model pendekatan bagaimana sutradara melakukan adapatasi novel ke film. Ketiga model tersebut adalah loose, faithful, dan literal.

Pertama, loose adalah pendekatan di mana seorang sutradara hanya mengambil ide cerita novel yang akan diadaptasi, sedangkan situasi atau karakter ceritanya dikembangkan secara bebas dan independen. Contoh adaptasi dengan model pendekatan loose adalah Throne of Blood (1957) karya Akira Kurosawa yang diadaptasi dari Macbeth karya Shakespeare. Adaptasi ini lebih bertumpu pada aspek sinematik dan bukan verbal. Ide yang diambil kemudian dikembangkan menurut resepsi dan imajinasi Kurosawa.

Kedua, faithful adalah kegiatan adaptasi yang berusaha untuk membuat film adaptasi yang sama seperti sumber literaturnya. Kegiatan ini dapat dianalogikan seperti halnya seorang penerjemah buku yang berusaha mencari padanan-padanan kata bahasa tujuan dari buku yang hendak diterjemahkannya. Film berjudul Berlin Alexanderplatz (1980) adalah film garapan sutradara R.W. Fassbinder (asal Jerman) yang dapat dijadikan sebagai contoh film yang dikerjakan dengan pendekatan faithful. Hasil adaptasinya adalah film berdurasi panjang (15 jam 21 menit) karena kesetiaan Fassbiner pada kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf dalam halaman-halaman novelnya.

Model ketiga, adalah literal. Model ini biasanya merupakan model adaptasi film dari teks-teks drama. Oleh karena drama memiliki dialog maupun aksi, maka persoalan ruang dan waktu akan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang sutradara yang akan mengadaptasi teks-teks drama ke dalam film. Seorang sutradara harus bekerja memikirkan faktor tersebut dalam proses penggarapan, baik dalam pengambilan gambar di lapangan maupun dalam proses editing.

Dengan melihat pendekatan yang ditawarkan Giannetti ini (setidaknya) tergambar, bahwa sumber dan hasil adaptasi sangat mungkin terjadi perbedaan, dan perbedaan dalam adaptasi adalah biasa, sah, dan wajar, karena dalam adaptasi memuat mimetic dan creatio.
Jadi bagaimana dengan pemikiran mengenai originalitas dan inferioritas karya adaptasi?

One thought on “Model Pendekatan Adaptasi Novel-Film versi Louis Giannetti

  1. salam Pak Suseno, terima kasih atas infonya sangat menarik dan bermanfaat. Kebetulan saya juga sedang menulis tentang ekranisasi. Pada pembahasan Bapak tentang adaptasi literal saya masih kurang mengerti, bagaimana jika media tulis adalah novel, dari mana pengaplikasian film bertolak. adakah contoh film ternama yang menggunakan pendekatan ini? terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s