Surau yang Hilang: sebuah impresi cerpen karya Pangeran Gunadi

Oleh:
Suseno

A. Sinopsis
Surau yang Hilang adalah cerpen yang berkisah tentang seorang gadis desa bernama Salma. Pada mulanya ia tinggal di kampung halamannya. Sering ia belajar mengaji kepada Raka, seorang pemuda yang pandai mengaji. Pemuda inilah yang kemudian membuatnya jatuh hati. Dalam kehidupan yang demikian, Salma merasa begitu tenteram dan damai, apalagi apabila dekat dengan Raka.
Akan tetapi, kedamaiannya bertahan lama. Suatu hari pamannya memperkosanya. Akhir dari kejadian ini Salma pergi ke kota dan melacur. Sebenarnya hati kecilnya sendiri berontak dengan pekerjaan itu. Namun, ia tak kuasa melawannya. Selama menjalani pekerjaan itu pula ia sering kali dibayangi dengan kenangan-kenangan masa silam. Tentang Raka dengan suaranya yang indah dalam melantunkan ayat-ayat Al Quran. Tentang keluarganya. Semua itu membuatnya rindu pada kampung halamannya.
Suatu malam, tidak seperti hari-hari biasa, Salma tidak pergi melacur. Ia hanya terdiam di kamar tempat tinggalnya. Bayangan akan Raka, keluarga, dan kampung halamannya kian kuat, tak mau pergi barang sejenak pun. Hal ini seakan menarik dan memanggil-manggilnya untuk pulang. Keputusan untuk pulang pun akhirnya diambilnya.
Keesokan harinya ia pulang dengan menumpang kereta api. Selama perjalannya Salma terus membayangkan kampung halamannya yang selama ini telah ia tinggalkan. Tentang Raka, suarau yang mungkin telah berganti masjid yang megah, kampung yang telah berubah, dan keluarganya yang akan menyambutnya dengan tangis dan derai air mata.
Ketika tiba di rumahnya ia pun disambut dengan isak tangis oleh keluarganya. Rentetan pertanyaan tentang pekerjaan, di mana dia tinggal, dan sebagainya tak mampu ia jawab dengan jujur. Ia tak mau orang tuanya tahu soal pekerjaannya selama ia pergi ke kota.
Begitulah, pulang ke kampung halamannya Salma menjumpai sekian banyak perubahan. Stasiun yang dulunya dikelilingi sawah dengan padi yang menguning, telah berubah dikellingi oleh rumah-rumah penduduk. Surau yang menjadi saksi cintanya pada Raka pun telah berganti dengan masjid yang megah, dengan keramik yang bagus. Tak lagi ia dapati surau yang dulu. Satu lagi, harapan bertemu dengan Raka, untuk dapat menyatakan cinta dan berharap Raka mau menerima cintanya pun pupus. Raka telah menjadi milik orang. Harapannya pun hanya tinggal kenangan.

B. An Impression
Ada beberapa kesan yang muncul ketika mulai sampai dengan usai membaca cerpen berjudul “Surau yang Hilang” karya Pangeran Gunadi ini.

Pembacaan Judul dan Gambar Ilustrasi
Membaca judul cerpen ini, sesuatu yang terbayang adalah sebuah cerita religius, Islam. Hal ini tercermin begitu kuat dari kata ‘surau’ yang dipakai sebagai kata pertama dari judul cerpen. Surau adalah tempat tempat ibadah umat muslim, lebih kecil dari masjid, ada istilah lain adalah langgar, biasanya dinding terbuat dari kayu atau bambu. Surau ada di lingkungan desa atau perkampungan, bukan di perkotaan. Maka dari melihat satu kata ‘surau’ saja dalam judul cerpen ini maka yang terbayang olehku adalah sebuah kehidupan kaum muslim di sebuah desa, sebuah kampung yang tenang, jauh dari keramaian kota. Di sana ada seorang kiyai atau pemuka yang dijadikan sebagai tetua atau imam bagi masyarakat lainnya.
Kemudian, ketika masuk pada kata berikutnya ‘hilang’, yang terjadi dalam pemikiran saya kemudian adalah melirik lagi pada pengertian yang saya buat pada kata ‘surau’. Dengan dikaitkannya ‘surau’ dengan kata ‘hilang’ maka yang terbersit dalam benak saya adalah bahwa kata ‘surau’ di sini sebenarnya bukan hanya berarti tempat ibadah, tetapi sangat mungkin berarti keimanan seseorang. Ternyata, ketika pembacaan mulai masuk kalimat demi kalimat isi, paragraf demi paragraf isi, dugaan awal tersebut sepertinya tidaklah salah. Cerpen ini memang berkisah tentang seorang yang dulunya sering kali datang ke surau untuk mengaji, namun kemudian ia meninggalkan surau itu, dan pergi ke lembah hitam, hingga ketika ia kembali, ia tidak lagi mendapati surau itu. Salma yang ingin kembali pada kedamaian yang dulu pernah dirasakan, baik karena Raka ataupun karena ayat-ayat Al Qurannya, namun tidak lagi mendapati kedamaian itu.
Pembacaan terhadap judul juga tak dapat saya lepaskan dengan membaca gambar ilustrasi yang ada. Pada gambar tersebut, terlihat ada dua orang, laki-laki dan perempuan. Gambar tersebut selain menguatkan judul cerpen, juga menyiratkan satu kisah tersendiri. Hadirnya dua manusia, juga membayangkan adanya kisah cinta. Yang terbayang pertama kali ketika membaca judul dan gambar ilustrasi tersebut segera terbayang bahwa cerpen tersebut akan bercerita hubungan dua insan yang kemudian terpisah.

Alur-Cerita
Alur cerita yang di tampilkan sebenarnya biasa saja. Tidak ada konflik dan intrik yang asik, unik, dan menarik. Layaknya cerita zaman romantik. Semua berjalan datar dan wajar.
Pergolakan batin Salma, tokoh utama, saja yang mencoba ditonjolkan. Kalau saya cermati memang dalam cerpen ini, Pangeran Gunadi tidak ingin bermain dengan alur, tetapi ia lebih memusatkan pada kisah yang dialami tokoh. Namun demikian, bahasa yang digunakan juga biasa saja.
Ada satu adat Jawa, tradisi wanita, yang dalam cerpen ini masih dibina, walau kemudian juga mencoba dilawannya, yaitu saru-siku. Tradisi yang selam ini ada adalah bahwa wanita itu saru kalau mengatakan cinta terlebih dulu. Ia mesti menahan diri, dan menunggu laki-laki yang mengatakannya. Ia menunggu saja. Akan tetapi, kemudian pada bagian akhir cerita tradisi ini telah dilawannya, Salma akhirnya pun menyatakan cintanya pada Raka.

Kisah Romi
Membaca teks “Surau yang Hilang”, cerpen karya Pangeran Gunadi, bagi saya seperti tengah membaca kembali kisah yang dialami tetangga saya yang terjadi beberapa tahun lalu. Mau tidak mau, kisah ini begitu lekat ketika saya membaca cerpen ini. Kalau saya coba susun kembali garis besar cerita atau kisah yang sampai ke telinga saya adalah demikian:
Kisah ini bermula dari kematian Sukirno, ayah Romi. Maka keluarga yang tersisa kini adalah Ibu Romi, Romi, dan dua adiknya. Berawal dari keinginan untuk membantu membiayai sekolah adiknya, Romi pun pergi ke Jakarta untuk bekerja atas ajakan temannya (sebut saja namanya X). Berharap mendapat pekerjaan yang baik, ternyata tidak demikian adanya. Romi justru dijual untuk dijadikan wanita pekerja seks komersil. Ibarat pepatah bilang “binatang yang sudah masuk perangkap pun tak bisa lepas lagi”, maka demikianlah yang terjadi pada Romi.
Hari-hari pun dilaluinya dengan penuh sesak dan berat. Kerinduannya pada kampung halaman selalu membayang.
Hampir tiga tahun berlalu. Romi berhasil melapaskan. Suatu sore, ia tiba di rumah orang tuanya. Tangis dan derai air mata pun tak terbendung lagi. Apalagi Romi mendapati ibunya yang tergolek sakit di atas ranjang. Di samping ranjang ibunya, dua adiknya terlihat pasrah menunggui ibunya.
Cita-citanya untuk membantu keluarga kandas oleh tipu daya seorang teman yang ia percaya.
***
Begitulah, kesan ini yang kemudian muncul setelah selesai membaca cerpen Pangeran Gunadi ini. Ada beberapa perbedaan memang antara fakta realitas yang dialami oleh Romi, tetangga saya, dengan fakta yang dialami oleh Salma dalam cerpen karya Pangeran Gunadi ini. Salah satu perbedaan utama adalah dalam cerpen Pangeran Gunadi tokoh Salma memiliki seorang lelaki yang dicintainya, yang menjadi idamannya. Sedangkan dalam kisah tetangga saya, Romi tidak memiliki seorang lelaki yang di cintainya.
Namun demikian, penghadiran kisah perasaan cinta Salma pad Raka, yang berujung pada kerinduan untuk pulang, sebenarnya memiliki pokok kisah yang sama dengan kisah nyata tetangga saya. Yaitu dalam rangka fungsi untuk menghadirkan satu kisah, ide, atau fungsi: ‘kembali’, yaitu ‘pulang’. Kembali atau pulang pada sesuatu yang dulu telah ditingalkannya.

Ayat-ayat Pesan
Ada satu pesan Raka pada Salma yang begitu berkesan bagi saya: “Engkau bebas memilih jalan hidup. Tetapi bila pilihanmu salah, maka hidupmu akan jatuh pada kesia-siaan.”
Dalam pesan tersebut, kita diingatkan pada satu prinsip dan pilihan. Pilihan hidup. Bahwa kita memang bebas memilih jalan hidup masing-masing. Namun, pilihan itu menjadi begitu penting bagi kelangsungan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat..
Satu lagi yang ingin diungkapkan oleh cerpenis ini, bahwa melalui ceritanya—dalam keadaan yang ia sendiri tidak yakin, begitu merasa sesal, merasa tidak lagi berguna, kacau, tapi kerinduan dan keinginan untuk pulang ke kampung halaman dan kepada harapannya, Raka, tetap dilsayakan oleh Salma—ia menyodorkan satu mata ajar pada kita bahwa betapa keinginan untuk ‘kembali’ itu harus ada, akan baik, dan seterusnya. Kembali ke keluarga, berarti kembali kepada asal, kembali pada kebaikan, kembali pada ridlo Allah. Dan kembali pada Raka, adalah kembali kepada cinta, kembali kepada kerinduannya pada lantunan ayat-ayat Al Quran yang menyejukan, kembali kepada kedamaian. Bertobat, meski kalam keadaan seperti apa pun diri kita. Bukankah Allah berjanji kepada hamba-Nya bahwa Ia akan menerima tobat seorang hamba, sebelum ajalnya tiba. Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa Allah akan mengampuni dosa apapun asalkan bukan syirik. Dalam kisah ini tentu kita melihat upaya dan keinginan kuat yang dimiliki oleh Salma, yaitu keinginan untuk kembali. Kembali ke kampung berarti pula kembali pada Raka. Kembali pada Raka berarti pula kembali pada cinta dan kedamaian dengan lantunan ayat-ayat Al Quran. Kembali pada ayat-ayat Al Quran berarti pula kembali pada jalan Allah, bertaubat. Dalam kaitan dengan ini kita teringat pada salah satu ayat yang –kalau tidak salah—berbunyi: Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali ia mau berusaha untuk merubah nasib dirinya sendiri.
Inilah, jadi menurut saya tobat atau insyaf adalah hipogram dari cerpen ini. Sebuah kata yang begitu indah dan menyejukan. Mudah di ucapkan, tetapi memerlukan perjuangan untuk mewujudkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s