Semiotika Riffaterre: sebuah Metode Pemaknaan Sastra

Oleh:Suseno

Pengantar

Berbicara puisi maka tidak dapat lepas dari bahasa, dan berbicara pemaknaan puisi (sastra) tidak dapat lepas dari pembaca.
Puisi atau karya sastra pada satu sisi adalah a dialectic between text and reader (Riffattere, 1978), dan pada sisi yang lain merupakan dialektika antara tataran mimetik dan semiotik. Puisi, dengan karakteristik yang dimiliki, menggunakan bahasa sehari-hari, tapi bukan bahasa sehari-hari. Puisi mengungkapkan sesuatu, tetapi dengan sesuatu yang lain. Oleh karena itu, dalam tataran semiotika, teks-teks yang hadir dalam puisi dinilai sebagai sebuah tanda yang harus digali lebih dalam maknanya. Makna tentu bukanlah tanda itu, tetapi sesuatu yang dibaliknya. Meminjam istilahnya Saussure ada signified an significant, ada penanda dan ada petanda.
Dengan demikian, membaca (memaknai) puisi, seperti halnya membaca karya sastra yang lain, perlu memperhatikan karakter dari puisi tersebut serta memperhatikan ‘langkah kerja’ yang mesti dilalui. Dengan memperhatikan hal tersebutlah kita akan dapat sampai pada tujuan utamanya, yaitu menemukan pusat makna, menemukan dasar makna yang utama, hipogram.

Tahapan Pemaknaan Puisi

Terhadap puisi, Riffaterre menganggap bahwa sebenarnya ia merupakan suatu aktivitas bahasa. Dalam puisi ada ‘sesuatu’ yang ingin disampaikan, ada pesan yang ingin diungkapkan. Dengan kata lain, puisi berbicara tentang ‘sesuatu’ tertentu. Akan tetapi, dalam menyampaikan atau membicarakan sesuatu tersebut, puisi menggunakan maksud yang lain, puisi berbicara secara tidak langsung. Sebenarnya bahasa yang digunakan dalam puisi pun adalah bahasa sehari-hari. Namun demikian, tatanan dan ‘bentuk’ penghadiran bahasa puisi berbeda dengan bahasa umum sehari-hari. Dalam kaitannya dengan konsep estetik bahasa puisi, Riffattere (1978:1) mengungkapkan ada satu ciri penting dalam puisi, yaitu bahwa “puisi mengekspresikan konsep-konsep dan benda-benda secara langsung. Sederhananya, puisi mengatakan satu hal dengan maksud hal lain.” Hal ini pula yang membedakan bahasa puisi dengan bahasa umum, bahasa sehari-hari.
Ada tiga hal yang memengaruhi terjadinya keberbedaan wujud atau penggunaan bahasa dalam puisi dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, yang menimbulkan ketidaklangsungan semantik dalam puisi. Ketiga hal tersebut seperti diungkapkan Riffaterre (1978:2) adalah pertama penggantian arti (displacing of meaning), kedua pemencongan atau penyimpangan atau perusakan arti (distorting of meaning), dan ketiga adalah penciptaan arti (creating of meaning). Riffaterre selanjutnya menjelaskan bahwa displacing terjadi manakala suatu tanda bergeser dari makna yang satu ke makna yang lain, manakala suatu kata “mewakili” kata yang lain. Pada perilaku ini bisaanya terjadi oleh adanya perilaku metafora dan metonimi. Distorting terjadi disebabkan oleh adanya ambiguitas, kontadiksi, ataupun nonsense. Sedangkan creating terjadi disebabkan oleh adanya pengorganisasian ruang teks. Dengan kata lain, creating of meaning terjadi ketika ruang (kosong) tekstual berfungsi sebagai suatu prinsip organisasi untuk membuat tanda-tanda dari unsur-unsur linguistik yang mungkin tidak bermakna, seperti misalnya simetri, rima, atau ekuivalensi semantik antara homolog-homolog dalam suatu stanza. Pradopo menyebutkan bahwa penciptaan arti disebabkan oleh adanya pengorganisasian ruang teks, yang di antaranya melalui enjambemen, sajak, tipografi, dan homolog.
Sebagai ekspresi bahasa, puisi hanya dapat dipahami oleh pembaca yang memahami atau menguasai konvensi bahasa. Tanpa adanya penguasaan terhadap konvensi suatu bahasa, pembaca (puisi) tidak mungkin dapat (atau akan mengalami kesulitan) menangkap pesan yang ada di baliknya. Sebagai fenomena sastra, bagaimanapun puisi merupakan suatu dialektika antara teks dengan pembaca. Puisi pun hakikatnya adalah sebuah teks, yaitu suatu satuan yang tertutup. Kaitannya dengan bahasan di atas adalah bahwa seorang pembaca puisi, dalam arti untuk dapat menangkap makna atau pesan, harus dapat membongkar bentuk-bentuk ketidaklangsungan semantik yang ada dalam puisi.
Untuk persoalan yang satu ini, meskipun seorang pembaca harus mengetahui konvensi bahasa, seorang pembaca puisi tidak bisa hanya bermain pada tataran kulit luar bahasa puisi. Hanya membaca bentuk bahasa sebagai satuan-satuan gramatikal yang tampak. Jika demikian yang terjadi, maka ia hanya berada pada tahap pembacaan heuristik, yaitu pembacaan berdasarkan tata bahasa normatifnya, didasarkan pada konvensi bahasa yang karenanya bersifat mimetik serta membangun rangkaian arti yang bersifat heterogen. meliputi morfologi, semantik, dan sintaksis. Pembacaan ini menghasilkan arti atau pemaknaan yang hanya sesuai dengan system semiotik tingkat pertama atau yang bisaa disebut dengan first order semiotiks system. Makna yang diperoleh adalah makna keseluruhan sesuai dengan tata bahasa normative saja. Pembacaan ini tidaklah mencukupi untuk dapat memahami dan menangkap makna puisi yang sesungguhnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, seorang pembaca (reader) harus bergerak maju, lebih jauh, pada pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra. Riffattere menyebut untuk istilah ini dengan pembacaan hermeneutic, yaitu pembacaan menurut system semiotik tingkat kedua atau second order semiotiks system. Pembacaan hermeneutik disebut juga sebagai pembacaan retroaktif. Pembacaan ini diperlukan sebagai langkah solusi untuk melewati rintangan yang muncul pada tahap pembacaan yang pertama, yaitu pembacaan heuristik. Rintangan tersebut sebenarnya adalah berupa penyimpangan kode bahasa, penyimpangan dari makna bisaa menjadi makna yang ‘tidak bisa’ pada bahasa puisi. Untuk istilah ini menyebutnya dengan sebutan ungramatikalitas (ungrammaticality) Ungramatikalitas adalah merupakan salah satu bentuk distorsi pada representasi literer atas realitas atau mimesis yang hadir pada ketidaklangsungan semantik puisi. Ada hal lain memang, sebagai bentuk ancaman representasi literer terhadap realitas ini, yaitu pengubahan secara visible dan persisten atas representasi dengan suatu cara yang tidak konsisten atau dengan apa yang diharapkan oleh pembaca. Maka, jika pada tahap pembacaan heuristik seorang pembaca akan (masih) mengalami sandhungan serta memiliki pemahaman yang (cenderung) beraneka-ragam, melalui pembacaan hermeneutik ini seorang pembaca akan dapat memeroleh kesatuan makna puisi yang dibacanya.
Riffattere mengungkapkan ciri dasar mimesis adalah produksi rangkaian semantik yang selalu berubah. Hal ini dipengaruhi oleh representasi itu didirikan di atas referensial bahasa, yaitu di atas relasi langsung antara kata-kata (sebagai bentuk atau referensial bahasa) dengan benda tertentu. Hal ini tentu erat kaitannya dengan teks. Sementara itu, teks sendiri selalu melakukan pelipatgandaan detail-detail dan kemudian mengubah fokusnya demi mencapai kesamaan agar dapat diterima dengan realitas. Hal ini tentu mengingat sifat realitas itu sendiri yang sangatlah kompleks. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya mimesis itu merupakan variasi dan multiplisitas.
Selanjutnya, ciri khas puisi adalah kesatuan, baik kesatuan formal maupun kesatuan semantik. Maka dengan demikian, komponen-komponen puisi yang menunjuk pada ‘sesuatu yang lain’ tentu saja akan menjadi sesuatu yang konstan, yang tetap dan tidak akan berubah. Dengan melihat ciri ini maka jelaslah bahwa komponen-komponen di dalam puisi ini berbeda dengan mimesis. Kesatuan formal dan semantik itu kemudian disebut sebagai signifikansi.
Jika Riffattere mengibaratkan puisi dengan donat, dengan komponen strukturnya daging donat dan ruang kosong yang menopang donat sebagai dua komponen yang tak terpisahkan, saling mendukung dan saling memberi arti, yang mana justru ruang kosong yang ada di bawah atau di dalam daging donat itulah yang kemudian menopang arti dia disebut sebagai donat. Maka demikian pula dengan puisi, ruang kosong dalam puisi, sesuatu yang tidak hadir dalam teks puisi, tetapi (justru) sebenarnya dialah yang menopang lahir dan ada atau dapat disebutnya sebagai puisi itulah tujuan ‘sesuatu’ yang harus dicapai dalam ‘pembacaan’ puisi. Apa sebab? Di sanalah sebenarnya makna puisi yang dikaji berada. Dialah yang menentukan terbentuknya puisi, menentukan makna puisi.
Karya sastra oleh Riffattere dipandang sebagai suatu bentuk respons atas karya sastra lain , maka kemudian yang penting dalam analisis atau pencapaian makna puisi adalah respon puisi tersebut. Tugas pembaca adalah menemukan dan menafsirkan response yang terkandung dalam puisi tersebut (Teuuw 1983). Satu prinsip yang penting dalam kaitan dengan ini, yang diungkapkan oleh Riffattere adalah prinsip intertekstualitas: bahwa karya sastra memiliki hubungan dengan karya yang lain. Seorang pembaca puisi akan dapat memperoleh makna puisi secara lengkap (penuh) atas puisi yang dibacanya jika dapat menemukan hubungan (pertentangan)-nya suatu karya sastra dengan karya sastra yang lain. Untuk hal ini Riffattere menyebutnya dengan istilah hipogram. Hipogram ini merupakan latar penciptaan karya sastra itu sendiri; merupakan tulisan dasar untuk penciptaan baru, dengan memutarbalikan esensi, amanat karya sebelumnya. Teeuw (1983: 65) menyebutkan bahwa latar penciptaan karya sastra bisa meliputi masyarakat, perstiwa dalam sejarah, ataupun alam dan kehidupan. Satu hal yang perlu dicermati oleh pambaca sastra adalah bahwa intertekstualitas sama sekali tidak perlu berdasarkan niat eksplisit atau kesengajaan seorang penyair; bahkan seringkali seorang penyair tidak menyadari hipogram yang menjadi latar karyanya.
Lebih lanjut Riffaterre membedakan hipogram menjadi dua macam, yaitu hipogram potensial dan hipogram aktual. Hipogram potensial adalah hipogram-hipogram yang tampak, yang terkandung dalam bahasa yang digunakan dalam karya sastra, segala bentuk implikasi dari makna kebahasaan yang telah kita pahami. Hipogram ini bisa berbentuk presuposisi, sistem deskripsi, makna konotasi, dan lain-lain. Untuk mengetahui bentuk implikasi tersebut kita tidak perlu mencarinya dalam kamus. Kita tentu saja tidak dapat menemukannya di dalam kamus, melainkan sebenanya bentuk implikasi tersebut telah ada dalam pikiran kita masing-masing. Sementara hipogram aktual adalah hipogram yang berupa teks-teks yang telah dihadirkan sebelumnya.
Seperti halnya hipogram dari atau dalam puisi, yang berupa ruang kosong yang menopang terbentuknya puisi, maka hakikatnya ruang kosong dalam puisi itu, sesuatu yang tidak hadir secara tekstual tetapi merupakan penopang adanya puisi, itu sesungguhnya adalah pusat makna dari sebuah puisi. Dengan demikian kita bisa mengetahui justru betapa penting ruang kosong, sesuatu yang tidak dihadirkan secara tekstual dalam puisi itu, karena ia adalah pusat makna yang akan dan penting untuk ditemukan. Riffaterre menyebut pusat makna ini sebagai matriks. Oleh karena matriks ini tidak pernah hadir di dalam teks, maka tentu saja kita tidak dapat menemukannya, melihatnya dalam teks-teks puisi. Sesuatu yang dapat kita lihat dalam teks puisi hanyalah aktualisasi, yaitu model sebagai bentuk aktualisasi pertama dari matriks tersebut, yang ini pun masih akan diaktualisasi ke dalam bentuk aktualisasi kedua yaitu varian.
Oleh karena matriks, seperti halnya hipogram, adalah ruang kosong, pusat makna yang mesti kita temukan, sementara kita tidak dapat menemukannya dalam teks-teks puisi, melainkan hanya aktualisasinya, maka dengan demikian untuk dapat menemukan atau menangkap pusat makna ini mau tidak mau kita harus melakukan langkah pemaknaan dengan tahap-tahap pembacaan aktualisasi-aktualisasi tersebut. Dari langkah kerja tersebut akhirnya kita bisa menangkap makna serta hipogram dari puisi yang kita kaji.

19 thoughts on “Semiotika Riffaterre: sebuah Metode Pemaknaan Sastra

  1. iya.. betul juga. tulisan itu memang di-upload dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan dengan tulisan yang [sebenarnya] belum selesai. terima kasih atas masukannya, mudah-mudahan kapan-kapan bisa melengkapi seperti masukan kawan-kawan. thanks….

  2. maap, ini artikel anda buat sendiri atau mencopy paste? soalnya ingin saya buat sebagai bahan kajian… mungkin.

  3. Pak Seno, teori semiotik dalam drama, pak?
    Tugas dari bapak yang menganalisis drama itu, susaaah banget…

  4. susah ya…
    nanti kalau ada waktu coba saya muat…
    tapi jangan menyerah, kita hidup memang dituntut untuk berpikir… bahkan kadang seperti kerasnya orang yang bertahan hidup di tengah hutan… begitu ya…
    thanks…

  5. esai yang sangat menarik, pak.. sebuah kajian secara holistik, mencari keutuhan makna dalam pembacaan secara heuristik dan hermeneutik sebuah teks sastra (puisi), saya jadi teringat “The Other Voice”nya Octavio Paz, bahwa puisi bukan sebuah sejarah, bukan pula anti sejarah, tapi sebuah wajah lain tentang sejarah, ada sebuah korelasi yang menarik di awal pembahasan esai jenengan, Pak.. dan satu lagi, saya teringat pada sebuah diskusi tentang pembacaan puisi di sebuah forum, ada yang melontarkan tentang istilah “Deep Level” dalam pembacaam; sehingga menemu sebuah kebermaknaan.

  6. pak seno, tulisan anda ini sangat membatu saya dalam menyelasikan thesis saya, punya artikel yang lain tentang hypogram tapi yang berhubungan dengan novel ke film?

  7. beberapa seperti yang saya upload di blog ini. akan tetapi kalau yang spesifi bicara soal hypogram, belum ada. tapi saya ada satu tulisan tentang intertekstualitas. tapi belum saya unggah.

    ok. syukurlah.
    btw s2-nya di mana?
    salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s