Dunia Filmis Kaum Eksentrik

A.S. Laksana

Tujuh film tentang sastrawan diputar dalam tiga hari di Teater Utan Kayu. Dan selama tiga hari itu kita dibawa masuk ke dunia kaum eksentrik, orang-orang yang “di luar pusat”. Pengertian tentang eksentrik di sini merujuk pada kata Yunani, ekkentros, yang secara harfiah berarti di luar pusat. Jika “pusat” kita terjemahkan menjadi “tempat bagi orang ramai”, atau ruang hidup bagi orang-orang biasa, maka kaum eksentrik adalah pribadi-pribadi yang unik, mungkin urakan, dan jauh dari orang ramai. Paling tidak, itu terjadi dalam pergulatan pemikiran mereka.

Sebagai orang-orang yang melahirkan karya-karya kreatif, para sastrawan memang tampaknya dituntut eksentrik, berpikir jauh dari pusat, melahirkan sesuatu yang tidak biasa-biasa saja. Pergulatan untuk melahirkan sesuatu yang “di luar pusat” itulah yang kita saksikan dalam tujuh film yang dipilih. Tiga film mengangkat kisah hidup pengarang sesungguhnya (An Angel at My Table, Mishima, dan Rage of Love), tiga film merupakan adaptasi dari novel-novel dengan karakter utama seorang penulis (Factotum, Wonder Boys, dan Hunger), dan satu lagi adalah film-bukan-adaptasi tentang tokoh fiktif bernama Harry Block, seorang penulis yang sedang mengalami kemandekan (Deconstructing Harry).

Tentu saja keeksentrikan seseorang akan menjadi bahan yang menarik untuk difilmkan, sebab seorang sutradara mungkin tidak terlalu berminat pada kisah orang-orang yang biasa-biasa saja. Di sini kita sekaligus berhadapan dengan film sebagai sebuah karya kreatif yang juga dituntut untuk tidak biasa-biasa saja. Dan tindakan-tindakan eksentrik tampaknya merupakan salah satu materi penting bagi sebuah film. Ia harus menampilkan di layar hal-hal yang tidak biasa agar publik tidak menganggapnya sebagai film yang biasa-biasa.

Tidak bisa dimungkiri bahwa sebagian dari kita, mungkin sebagian besar, adalah penggemar tindakan-tindakan eksentrik dan jemu pada segala yang monoton. Karena itulah film-film hampir selalu menyajikan karakter dan tindakan-tindakan yang tidak biasa-biasa saja. Dan, di layar film, keeksentrikan bukan hanya milik pengarang. Ia milik banyak karakter lain yang ditampilkan di sana. Kriminal yang biasa-biasa saja tidaklah terlalu menarik dibandingkan dengan kriminal yang eksentrik. Pelukis yang normal tidak semenarik pelukis yang menjalani hidupnya secara gila-gilaan. Pelaku bisnis yang wajar akan membosankan sebagai tontonan dibandingkan dengan pelaku bisnis yang tidak normal.

Dalam keeksentrikan ada keindahan. Dalam keeksentrikan ada daya pukau. Dan itulah yang kita buktikan selama tiga hari di layar. Kita terhibur oleh jalan hidup yang tidak lazim dari orang-orang yang melahirkan karya-karya bagus. Dalam kata lain, keganjilan adalah sesuatu yang filmis. Ia sedap dipandang, enak dinikmati, dan menghibur. Juga keeksentrikan menghadirkan gambar yang memikat. Banyak kemungkinan yang bisa digarap dalam keganjilan seseorang.

Upaya Menggambarkan Pikiran

Persoalannya, di luar urusan keeksentrikan yang memang filmis, bagaimana memfilmkan dunia kepengarangan? Kepengarangan adalah dunia yang diam; kenyataan-kenyataan dan pertarungan hanya hidup di dalam tempurung kepala. Bagaimana ikhtiar untuk menjangkau sesuatu yang tak tampak dan menjadikan sebuah gambar? Bagaimana menampilkan di layar kecamuk pikiran seorang pengarang dalam proses kreatifnya?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya pada pernyataan yang sudah umum diterima: Sebuah gambar berbicara seribu kata. Keseluruhan tertangkap, detail didekati, penuturan diringkas. Yang barangkali harus ditambahkan adalah bahwa gambar memang bicara seribu kata, tetapi ia bicara seribu kata untuk objek-objek yang bisa dipandang. Kita tak bisa memandang sesuatu yang tak teraba. Dan film, kita tahu, hanya menyuguhi kita hal-hal yang bisa dipandang dan bisa didengar. Selain gambar, ada suara di sana. Di luar mata dan telinga, indera kita yang lain tidak bisa terlibat di dalamnya. Ini berbeda dengan tulisan yang mampu melibatkan kelima indera kita. Dalam sebuah deskripsi yang bagus, kita bisa mencium, misalnya, sengak keringat seseorang, merasakan sesuatu yang kasar di kulit, mencecap udara yang asin, mendengar musik atau caci maki, dan melihat sesuatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Karena beberapa kelemahan itulah sebuah gambar, meski berbicara seribu kata, masih tetap memerlukan kata-kata. Dalam hampir semua film, kita masih mendengar narasi. Hanya satu film yang tidak bernarasi, yakni Hunger, yang diadaptasi dari novel pengarang Norwegia Knut Hamsun berjudul sama. Ini adalah film tentang seorang pemuda yang berjuang alot untuk menulis, yang menunggu masterpiece-nya dimuat di sebuah koran, dan ia lapar berhari-hari menantikan uang yang akan ia peroleh dari tulisan yang kemudian ditolak oleh sang redaktur. Dalam “kegilaan” itu, ia selalu meyakini yang ia tulis adalah sebuah karya agung dan dalam sebuah kesempatan di pegadaian, ketika ia menggadaikan rompinya, ia mengatakan kepada pemilik pegadaian bahwa ia telah melahirkan tiga jilid buku filsafat.

Dalam film yang dimulai penggarapannya tahun 1966 itu sutradara Henning Carlsen sama sekali tidak menggunakan teknik narasi untuk menampilkan apa yang ada dalam pikiran. Ia betul-betul memercayakan tuturannya pada bahasa gambar, pada detail yang dimunculkan di layar, dan kejituan sang aktor menghidupkan karakter. Dengan cara ini ia sekaligus menempuh risiko menghilangkan kecamuk pikiran si karakter utama. Dan, tanpa mengurangi pujian terhadap film ini, Carlsen, dan kita yang menonton, tampaknya harus rela kehilangan banyak hal, sebab “badai” di kepala karakter utama tak bisa dimunculkan.

Kita kehilangan “pertarungan” seru yang dialami oleh si karakter utama untuk meruntuhkan semua pemikiran besar filsafat yang sudah ada. Di film itu, kita tak bisa membaca keberatan-keberatan dia terhadap ide-ide besar filsafat, termasuk kritiknya terhadap Immanuel Kant. Dan kita kehilangan ironi, di mana dalam tindakan gilanya untuk mengungguli Kant, ia justru mengamalkan salah satu ucapan paling populer dari filosof itu. “Kebajikan itu baik bukan karena apa yang dihasilkannya… ia baik dalam dirinya sendiri,” demikian Immanuel Kant (1724-1804). Lihatlah, hampir sepanjang film si karakter utama menjalani ucapan itu. Namun, tanpa memahami apa yang bergolak di dalam kepalanya, yang tampak di layar hanyalah tindakan-tindakan filmis yang dilakoni secara menakjubkan oleh karakter utama.

Dalam ikhtiar Carlsen untuk tidak memasukkan narasi, kita kehilangan racauan yang berlangsung di kepala si tokoh. Dan itu adalah bagian penting di dalam novel. Sedikit catatan: Knut Hamsun, yang novelnya diadaptasi dalam film ini, memiliki kekaguman pada Dostoyevsky, yang salah satu racauannya kita nikmati dalam Catatan dari Bawah Tanah. Novel Hunger sedikit banyak menunjukkan jejak racauan yang serupa dengan Dostoyevsky. Menghadapi hal ini, untuk menunjukkan jejak Dostoyevsky di sini, Carlsen mencoba melakukannya dengan menghadirkan foto Dostoyevsky di ruang kerja sang redaktur koran tempat si karakter utama mengirimkan artikelnya.

Penggambaran paling leluasa tentang apa yang terjadi di kepala pengarang hanya bisa terjadi pada film Deconstructing Harry (Woody Allen, 1997). Cara bertutur film ini mengingatkan kita pada cerpen Luigi Pirandello (yang kemudian dikembangkannya menjadi naskah drama), Six Characters in Search of an Author. Teknik ini mungkin dilakukan sebab Deconstructing Harry bukan karya adaptasi dan bukan pula biografi seorang pengarang. Sebagaimana dalam cerita Pirandello, karakter-karakter ciptaan Harry Block, tokoh utama dalam film itu, muncul dan bercakap-cakap dengan penulisnya. Dengan cara seperti inilah Woody Allen mencoba menghidupkan kecamuk pikiran seorang penulis yang mengalami kebuntuan, sampai akhirnya ia menemukan kalimat pertama untuk ceritanya.

Di antara semua film, saya menaruh kekaguman pada film Factotum (Bent Hamer, 2000) yang diangkat dari novel Charles Bukowski. Film muram ini berkisah tentang Henry Chinaski, seorang pemabuk yang menulis dengan sangat lancar—ia menyelesaikan 3-4 cerpen dalam waktu seminggu—dan menjalani hidupnya dengan alkohol dan perempuan. Ia mau bekerja apa saja sekadar untuk mabuk dan menikmati seks. Beberapa resensi tentang film ini menyebutkan bahwa Factotum terlalu rapi untuk menggambarkan Chinaski, yang dipercaya oleh para penggemar Bukowski adalah potret diri sang pengarang (hampir setiap cerita Bukowski berangkat dari pengalaman pribadinya). Bukowski, yang dikenal dengan sebutan “penulis jalanan”, konon jauh lebih berantakan, lebih urakan, dan lebih muram dari itu. Dan Matt Dillon terlalu tampan untuk memerankan karakter Bukowski.

Matt Dillon sesungguhnya tampil bagus dalam film ini, hanya narasinya terdengar seperti kurang tenaga bagi seorang urakan seperti Bukowski. Saya tidak mendalami riwayat Bukowski, tetapi mungkin perlu diuji lebih jauh apakah Bukowski, yang sepanjang hidupnya sebagai pemabuk telah menghasilkan 60 buku prosa dan puisi itu, mempunyai penampilan seloyo Henry Chinaski yang diperankan oleh Matt Dillon.

Satu film lain yang tidak kalah muramnya adalah An Angel at My Table (Jane Campion, 1990). Sebuah catatan khusus tentang bakat penulisan bisa kita dapatkan dari sini. Film yang diangkat dari trilogi otobiografi Janet Frame, penulis Selandia Baru, ini menunjukkan kepada kita bahwa bakat itu memang ada. Frame, yang begitu pemalu, dan seperti tidak tahu apa yang harus ia lakukan, yang selalu gugup, bahkan nrimo saja ketika didiagnosis skizofrenia dan harus berurusan dengan psikiater, ternyata bisa menghasilkan novel yang memenangi penghargaan. Bakat yang muncul dari kecil pada pengarang ini ditampakkan dalam adegan ketika Frame kanak-kanak menulis puisi dan ia memilih kosa kata yang tidak lazim dan ia tetap bertahan dengan kosa kata itu. Ini seperti memaksa kita untuk percaya bahwa kata datang sendiri kepada orang yang tepat.

Di luar kepekaannya terhadap kosa kata, Frame tentu saja banyak membaca. Hal ini muncul dalam adegan yang menunjukkan bagaimana ia mengenal para penyair dan karya-karya mereka dan bisa hafal puisi-puisi mereka.

Karya yang lahir dari Frame itulah yang saya maksudkan sebagai hasil dari bakat. Mungkin agak berlebihan jika dikatakan bahwa ia tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan. Dalam sifat pemalunya yang ekstrem, dalam ketidaktahuannya terhadap banyak hal, ia tahu satu hal: menjadi penyair. Frame merasakan dorongan kuat ke arah sana. Ia hanya ingin menjadi penyair. Tapi di saat lain, ia juga sangat patuh mengikuti semua saran, termasuk saran paling tidak masuk akal yang membuatnya mendekam delapan tahun di rumah sakit jiwa.

Unsur Otobiografis dalam Karya

Satu hal yang kerap memancing keingintahuan orang adalah apakah ada unsur otobiografis dalam karya-karya yang ditulis oleh para sastrawan. Jika pertanyaan itu dimunculkan lagi di sini, tampaknya kita harus berterima kasih atas pilihan terhadap tujuh film yang diputar. Dalam film Deconstructing Harry kita bisa melihat samar-samar bahwa jawaban untuk pertanyaan tentang unsur otobiografis itu adalah “ya”. Kita bisa menyaksikannya pada adegan ketika Harry bertemu dan bercakap-cakap dengan karakter-karakter ciptaannya. Di sana digambarkan bahwa mereka, para karakter ciptaan itu, bahkan lebih mengenal Harry ketimbang Harry mengenal dirinya sendiri. “Sebab aku ciptaanmu,” kata mereka. “Aku berasal dari dirimu.”

Keyakinan terhadap unsur otobiografis ini bisa kita lihat lagi pada film Mishima: A Life in Four Chapters (Paul Schrader, 1985). Sang sutradara membaurkan kisah hidup Mishima dengan tiga karya fiksinya, Temple of the Golden Pavilion, Kyoko’s House dan Runaway Horses, dalam film itu. Sebuah eksperimen? Ya. Dan itu ia gunakan untuk menjangkau hal-hal yang tidak mungkin ia tampilkan di permukaan layar, termasuk tentang homoseksualitas Mishima, karena istri Mishima tidak setuju beberapa hal dibeberkan di layar. Upaya Paul Schrader ini tampaknya merupakan pengakuan lain akan adanya jejak otobiografis dalam sebuah karya.

Anggukan yang mantap perihal unsur otobiografis ini tentu saja diberikan kepada karya-karya fiksi Charles Bukowski. Para pembaca fanatik Bukowski membaca karya-karya pengarang ini, dengan karakter utama Henry Chinaski, dalam keyakinan bahwa mereka tengah membaca pengalaman Bukowski sendiri. Mereka menonton Chinaski di layar dengan ingatan kepada penciptanya. Karena itulah Matt Dillon yang memerankan Henry Chinaski dalam Factotum diperbandingkan langsung dengan Bukowski.

Akhirnya, unsur otobiografis dalam sebuah karya mungkin menarik untuk sekadar dibicarakan, tetapi persoalan kepengarangan mungkin bukan di sana. Yang lebih penting bagi seorang pengarang, entah dia eksentrik atau tidak dalam tindakannya, atau apakah dia urakan atau formil dalam penampilannya, barangkali adalah bagaimana dia mengolah sumber daya yang ia miliki. Unsur biografis bukanlah hal yang musykil, sebab sebuah imajinasi—dari mana cerita-cerita rekaan bermula—bagaimanapun tidak pernah datang dari ruang kosong. Khayalan selalu bertolak dari sesuatu yang nyata, yang dialami. Dan, kita tahu, pengarang adalah orang yang hidup di dua dunia, dunia keseharian dan dunia rekaan, dan ia mencecap pengalaman dari kedua dunia itu. Dari dua dunia itu ia menangkap ilham untuk karya-karyanya.

A.S. Laksana adalah seorang penulis cerita pendek dan novel. Kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Bidadari yang Mengembara (2004). Ia juga aktif mengelola sekolah menulis The Jakarta School.

Artikel ini adalah versi final makalah diskusi yang disampaikan penulis di akhir acara pemutaran film-film “Sastrawan dalam Sinema” di TUK, 23-25 Februari 2007

Diunduh dari http://www.utankayu.org

2 thoughts on “Dunia Filmis Kaum Eksentrik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s