Perayaan Malam
seperti kembang malam
aku menyaksikan mereka bermekaran
pada senyum senyum mengembang
di antara kerlip lampu lampu
dan gemuruh sorai ruangan
pasca hujan hari lalu
:guntur yang mengancam
adalah sindrom mimpi yang menegangkan
meledak bisul pada nanah
dibasuh airnya
dan pada tangis-senyum yang terlahirkan
aku ada di tiap sudutnya
setia
meski tanpa kata apa apa
dan ceriaku
persis seperti lega yang kalian punya
Semarang, 18 Desember 2009, 11.50
Canggih, Pak!
Dua sisi yang berbeda, dalam keseharian sebagai dosen dan dalam dunia sang penyair.
Kapan-kapan mbog bacain puisinya di kelas, Pak!
kapan menjadi penyair…. penyair kelas kamar mandi kali…. (eh, kamar mandi kan penyanyi ya….) amin, semoga saja ada wangsit jatuh dan menjadi penyair…. tapi itu sandangan yang berat kok…. (abot sanggane, jawa).
Amiinn.
Meskipun penyair kelas kamar mandi namun karyanya tetap didengar negeri, kan Pak?
Kami menunggu buku kumpulan puisinya loh!
Bahasa Indonesia+Bahasa Jawa = Glokalisasi Bahasa.
Uoaya pencegahan tergerusnya kultur budaya Jawa dari pengaruh globalisasi. Setuju itu, Pak!
amin… tunggu tanggal orbitnya… kapan cetak emang… lagi dirancang…