kuung…
wajah lelah
wadah lemah
:adalah nyata yang mendera mata
seperti kata pada kamus-ensiklopedia
mengurai makna, akar filsafat dan historisitas
agar tak luput kita membaca
tapi apa membuat mati ia?
pada gerilya-gerilya tanpa jera
aku menjabatnya erat
bagai kekasih di pelukan mesra
meramu nada-nada
dari dasar-dasar jiwa
aku menuang cat-cat warna rasa
di atas kanvas-kanvas yang kau gelarkan
dan kulukiskan malam
yang menjadi saksi jam-jam pergulatan, pergolakan
tanpa adaku
;dengan tubuh dan jiwaku
aku merindu nyanyi lagu kemesraan
seperti yang kalian dendangkan tiap akhir perjumpaan
meski tak pernah tersuarakan
hingga berdesing ia di gendang-gendang telinga
aku membisik pesan malam
untuk gerilya panjang melelahkan
pada tiang-tiang tinggi di depan halaman kantor dan sekolah
seperti nyanyi sunyi
menjadi doa yang kupanjatkan
pada puluhan jasad kehangatan yang kurasakan
pada puluhan jiwa berkobar api
aku kirim pesan ini
untuk sebuah pendakian
pada tanda yang kan kautancapkan
persis di puncak yang kau injak
_dan aku tersenyum kelak
ketika berita koran pagi angkat bicara
:bendera
Semarang, 19 Desember 2009, 01.12 am
untuk anak-anakku dalam dan pasca perjuangan…
Belum ada trackback.