Home > Ekranisasi > Ekranisasi, Filmisasi Karya Sastra

Ekranisasi, Filmisasi Karya Sastra

Ekranisasi mungkin menjadi istilah yang baru, khususnya di Indonesia. Akan tetapi, kalau disebutkan dengan filmisasi atau pemfilman novel, barangkali istilah ini lebih familiar di telinga masyarakat Indonesia.

  • Kegiatan memfilmkan novel sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun 90-an. Sederet judul novel Indonesia telah diangkat ke layar lebar. Selain itu ada pula yang diangkat ke layar kaca dalam bentuk sinetron. Sederet judul seperti “Rara Mendut”, “Salah Asuhan”, “Atheis”, Ronggeng Dukuh Paruk”, “Si Doel Anak Betawi” adalah beberapa judul yang telah ditransformasi ke dalam bentuk film.
    Perkembangan filmisasi novel kian melejit dan mendapat tanggapan serta antusias masyarakat yang cukup banyak dapat terlihat dari era pemfilman AAC oleh Hanung Bramantyo. Booming ini tentu saja dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sukses ini kemudian dilanjutkan dengan pemfilman dwilogi “Ketika Cinta Bertasbih”, yang hingga kini, belum kunjung dapat kita saksikan hasilnya, dan “Laskar Pelangi”.
  • Kegiatan pemfilman karya sastra belakangan ini tidak saja dil;akukan terhadap novel, tetapi juga cerpen. Diantara cerpen yang telah di filmkan adalah “Tentang Dia” karya Melly Goeslaw, dan “Mereka Bilang Saya Monyet”, karya Djenar Maesa Ayu. Pemfilman MBSM karya Djenar adalah sebuah garapan film yang menarik dan unik. Bukan saja dari aspek sinematik dan ceritanya, tetapi juga hasil transformasinya.

  • Kalau pada dekade awal fenomena pemfilman karya sastra (novel) Indonesia masih diisi dengan diskusi dan berita ketidakpuasan beberapa pihak, terutama penulis novel, atas hasil pemfilman novelnya, pada dewasa ini mestinya yang demikian ini tidak perlu terjadi lagi. Bagaimanapun film, meskipun diangkat atau diadaptasi dari sebuah novel, ia tetap menjadi karya sendiri. Ia lahir sebagai teks baru yang tidak bisa dituntut untuk harus sama persis dengan novel sebagai hipogramnnya. Atau dengan istilah lain, perdebatan soal originalitas tidak perlu lagi mengemuka.
  • Tentu saja ini berjalan seiring perkembangan keilmuan, di antaranya teori sastra dan teknologi, yang memberikan jembatan dan pencerahan pada pemikiran kita. Persoalan kedudukan dan pandangan ikut mempengaruhi persoalan ini.
    Berbicara soal ini tentu masih banyak hal yang perlu diungkapkan, tetapi tidak kali ini, seperti konsep intertekstualitas, adaptasi, transformasi, politik, ideologi, dll. Semoga bisa melanjutkannya pada kesempatan lain. Amin.

    Categories: Ekranisasi Tags: ,
    1. mujiati
      25 November 2009 at 1:06 pm | #1

      mas saya mahasiswi uns..saya dapat tgas me-ekranisasi film ke novel atau sebaliknya..
      saya minta contoh-contoh kecil tentang cara me-ekranisasi..
      makasih

    2. 21 December 2009 at 7:10 pm | #2

      syukurlah kalau bermanfaat. ada juga. boleh. nanti coba saya up-load tulisan saya yang sebenarnya sudah dimuat di jurnal balai bahasa semarang.

    1. 4 March 2009 at 3:38 pm | #1

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: